KLATEN – Patrolinews86.com.
Perwakilan dari umat Hindu di FKUB Kabupaten Klaten Ir. Wisnu Hendrata, MMR mengatakan bahwa di antara rimbunnya pepohonan Prambanan, Candi Plaosan berdiri tenang.
“Dua kompleks candi yang saling berdampingan ini bukan sekadar peninggalan sejarah abad ke-9, tetapi juga kisah nyata tentang cinta, toleransi, dan hidup berdampingan antara dua keyakinan yang berbeda.” kata Wisnu Hendrata usai menyerahkan buku “Candi Plaosan” kepada ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet di hotel Sahud Rata, Jum’at malam ( 22/05/2026 ).
Wakil dari umat Hindu di FKUB Kabuparen Klaten menjelaskan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno, ketika umat Buddha dan Hindu hidup berdampingan dalam satu wilayah. Arsitektur dan reliefnya menunjukkan perpaduan budaya yang harmonis.
“Di sinilah letak keunikan Plaosan: sebuah bukti bahwa perbedaan tidak harus memisahkan, melainkan bisa melahirkan keindahan.” katanya.
Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, menyebut Plaosan sebagai simbol kerukunan yang abadi.
“Nilai sejarah inilah yang dinilai dapat menginspirasi masyarakat untuk merawat kerukunan dalam perbedaan keyakinan. Plaosan mengajarkan kita bahwa cinta dan damai bisa tumbuh dari dua hal yang berbeda,” ujarnya.
Semangat itulah yang kemudian dihidupkan kembali melalui Festival Candi Kembar di Desa Bugisan. Festival ini menjadi ruang bagi warga, seniman, dan tokoh lintas agama untuk merayakan warisan toleransi tersebut melalui pertunjukan budaya, dialog, dan tradisi.
Bagi banyak pengunjung, Plaosan bukan hanya destinasi wisata sejarah. Ia adalah pengingat bahwa kerukunan bukanlah utopia, melainkan sesuatu yang pernah hidup dan bisa dihidupkan kembali.
Di tengah dunia yang sering dihadapkan pada perpecahan, cerita di balik Candi Plaosan menawarkan pesan sederhana namun kuat: dari perbedaan, bisa lahir kedamaian yang indah.( Budiharjo )
























