Menyusutnya Etika Mahasiswa: Di Mana Rasa Hormat Terhadap Dosen.
Oleh : Gregorius Cristison Bertholomeus, S.H.,M.H
Mahasiswa seringkali menjadi sorotan karena mahasiswa mewakili generasi muda untuk mendorongnya perubahan.
Posisi mereka yang sangat penting dalam menentukan arah negara, perilaku dan moral tentunya menjadi pusat perhatian.
Tetapi, akhir-akhir ini ada banyak perbincangan hangat mengenai penurunannya etika mahasiswa.
Apakah tindakan seperti demonstrasi yang berlebihan, ketidakpedulian terhadap peraturan kampus, dan perilaku di media sosial menunjukkan bahwa etika mahasiswa saat ini mulai terkikis?
_). Berkurangnya Rasa Hormat Terhadap Otoritas.
Berkurangnya rasa hormat mahasiswa terhadap otoritas kampus juga menjadi salah satu topik yang sering diperbincangkan.
Situasi di mana mahasiswa secara terbuka mengabaikan perkuliahan atau, lebih buruk lagi, bertindak tidak sopan terhadap dosen sering kali menjadi bahan perdebatan hangat.
Tidak masalah untuk tidak setuju dengan kebijakan kampus, tetapi kritik harus disuarakan dengan cara yang etis.
Media sosial pun menjadi tempat untuk mencurahkan kekesalan dan kemarahan para mahasiswa.
Tentunya fenomena ini memperparah citra mahasiswa itu sendiri.
Media sosial yang bertujuan menjadi tempat sarana komunikasi secara sehat, akhir-akhir ini menjadi tempat untuk mengekspresikan kemarahan mereka dengan komentar atau sindiran kasar yang tidak pantas.
Jika saja para mahasiswa dapat memberikan kritik yang konstruktif, hal itu dapat membangun kemajuan bagi para mahasiwa itu sendiri.
-). Mulai Menurunnya Kesadaran Sosial?
Di sisi lain, ada juga kekhawatiran bahwa etika sosial mahasiswa menurun.
Dulu, mahasiswa dianggap sebagai agen perubahan sosial yang memperjuangkan hak-hak masyarakat.
Tetapi, tampaknya ada perubahan, karena banyak mahasiswa saat ini tampaknya lebih peduli dengan diri mereka sendiri dibandingkan dengan lingkungan sekitar mereka.
Semakin sering kita melihat orang-orang yang tidak peduli dengan isu-isu sosial atau bahkan terjebak dalam hedonisme.
Sebagai anggota komunitas intelektual, mahasiswa seharusnya lebih sadar dengan isu-isu sosial.
Mereka seharusnya dapat mempertimbangkan dan membantu menyelesaikan berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat luas.
_). Gadget VS Materi Dosen.
Mahasiswa sekarang sering menggunakan perangkat seperti laptop, tablet, dan smartphone dalam kehidupan sehari-hari di era digital ini.
Namun, moralitas penggunaan gawai selama perkuliahan masih menjadi perdebatan.
Di dalam kelas, gadget sering kali menjadi sumber gangguan.
Kualitas pembelajaran dapat dipengaruhi secara negatif oleh mahasiswa yang lebih fokus menggunakan perangkat mereka untuk bermain game atau menjelajahi media sosial daripada mendengarkan dosen.
Bermain game atau memeriksa pesan di ponsel anda selama kuliah dapat dianggap sebagai perilaku yang tidak sopan di dalam kelas.
Ketika dosen sedang menyampaikan materi, mahasiswa seharusnya mempunyai rasa hormat dengan memperhatikan dengan seksama.
Menghargai proses pembelajaran itu sendiri sama pentingnya dengan menghargai dosen.
_). Mengembalikan Etika Dalam Pendidikan.
Kerja sama antara mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan diperlukan untuk mencegah penurunan etika mahasiswa terhadap dosen.
Untuk meningkatkan pendidikan etika akademik, pertama-tama perlu untuk membuat mahasiswa menyadari betapa pentingnya sikap etis saat berinteraksi dengan dosen.
Institusi pendidikan juga harus menegakkan peraturan, terutama yang berkaitan dengan keterlambatan, penggunaan perangkat, dan plagiarisme serta pelanggaran akademik lainnya.
Selain itu, para dosen harus menjadi panutan bagi para mahasiswa dengan menunjukkan sikap profesional yang dapat mereka ikuti.
Pada akhirnya, mahasiswa harus memahami bahwa etika lebih dari sekadar memperlakukan dosen dengan hormat, tetapi juga tentang bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk sukses di kelas dan di tempat kerja kedepannya.
“Selalu berpegang pada nilai-nilai etika yang baik karena itu akan membentuk karakter dan integritasmu sebagai individu”.
























