Semarang patrolinews86.com -APAKAH SINDROM METABOLIK BERKAITAN DENGAN STATUS GIZI ORANG DEWASA?
Dirangkum oleh :
Desmeta Safa A, Dewi Fitrianingrum, Duski, Dwi Margi A, Sekar Ajeng P
Saat ini pemerintah Indonesia telah menjamin kualitas kemakmuran masyarakatnya. Dengan begitu, telah banyak didirikan bangunan-bangunan megah yang mengakibatkan terjadinya perubahan konsumsi pangan dan gaya hidup dari masyarakat itu sendiri, terlebih hal ini terjadi pada orang dewasa. Mereka cenderung mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) yang banyak mengandung kalori dan lemak serta kurangnya melakukan olahraga. Kurangnya aktivitas fisik dan perilaku nutrisi yang tidak sehat diakui sebagai faktor penyebab dan pengelolaan sindrom metabolik (MetS). Karena pentingnya kesehatan masyarakat dari MetS, intervensi gaya hidup harus efektif, tersedia dan dapat diakses oleh populasi berisiko tinggi. Berbagai program perawatan yang dilakukan memberikan kesempatan untuk mengembangkan dan menerapkan intervensi gaya hidup yang mendorong umpan balik dan pemantauan.
Sindrom metabolik (MetS) menjadi gangguan epidemi di seluruh dunia yang meningkatkan resiko penyakit kardiovaslular. Gangguan ini didefinisikan sebagai sekelompok faktor risiko serangan jantung yang paling berbahaya.
Berdasarkan kriteria National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III), diagnosis sindrom metabolik dikategorikan sebagai berikut:
1. Obesitas perut (lingkar pinggang pada pria 90 cm dan wanita 85 cm).
2. Trigliserida 1,69 mmol/L.
3. Kolesterol HDL-C pada pria <1,03 mmol/L dan wanita <1,29 mmol/L.
4. Tekanan darah 130/85 mmHg atau penggunaan obat antihipertensi.
5. Glukosa plasma puasa 5,6 mmol/L atau penggunaan obat antidiabetes.
Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab nomor satu kematian di China dan menyumbang lebih dari 40% total kematian. Sindrom metabolik ditandai dengan pengelompokkan faktor risiko penyakit kardiovaskular, termasuk obesitas perut, peningkatan tekanan darah, glukosa plasma puasa, trigliserida (TG) dan menurunnya kadar HDL.
Selama dekade terakhir, prevalesi sindrom metabolik ini telah meningkat pesat di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh urbanisasi, populasi yang menua, perubahan gaya hidup, dan transisi nutrisi.
Menurut International Collaborative Study of Cardiovascular Disease in ASIA (InterASIA), standar prevalensi dari sindrom metabolik orang dewasa antara tahun 2000 dan 2001 yang berusia 35-74 tahun yaitu 13,7%, sedangkan berdasarkan data surveilans penyakit tidak menular (PTM) yang dinilai menggunakan kriteria National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III), prevalensi sindrom metabolik dari orang yang berusia 18 tahun keatas yaitu 33,9%.
Prevalensi sindrom metabolik berhubungan positif dengan usia. Data dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional melaporkan bahwa prevalensi sindrom metabolik di antara populasi Amerika berusia 20 tahun ke atas meningkat dari 32,9% pada tahun 2003– 2004 menjadi 34,7% pada tahun 2011–2012.
Bukti yang berkembang menunjukkan bahwa faktor yang menyebabkan meningkatnya prevalensi sindrom metabolik terjadi karena beraneka ragam salah satunya yaitu, asupan biji-bijian menurun secara signifiikan, sedangkan asupan lemak meningkat secara dramatis. Asupan garam harian jauh lebih tinggi, sedangkan asupan harian sayur dan buah-buahan lebih rendah dari yang direkomendasikan. Sebuah studi prospektif berdasarkan jumlah asupan makanan menunjukkan bahwa konsumsi daging, gorengan, dan soda diet berhubungan buruk dengan risiko sindrom metabolik, dibandingkan mengkonsumsi susu yang lebih bermanfaat.
Untuk mengurangi hal tersebut, maka strategi modifikasi gaya hidup merupakan hal yang paling utama dalam pengelolaan sindrom metabolik. Aktivitas fisik dan perbaikan kebiasaan diet merupakan intervensi gaya hidup utama yang telah terbukti dapat meningkatkan sindrom metabolik. Program tersebut dapat membantu orang untuk menurunkan berat badan, meningkatkan kolesterol HDL, menurunkan kolesterol serum, trigliserida, glukosa, dan tekanan darah.
Bukti saat ini menunjukkan bahwa gaya hidup kesehatan yang buruk disangkut-pautkan dengan jumlah komponen sindrom metabolik. Komponen metabolik seperti obesitas perut, hipertensi, dan diabetes telah dikaitkan dengan Health-Related Quality of Life (HRQOL).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria lebih tinggi mengalami sindrom metabolik dibandingkan wanita, walau perbedaan ini tidak signifikan. Alasan berikut dapat berkontribusi pada perbedaan jenis kelamin dalam distribusi sindrom metabolik.
Seseorang dengan obesitas dapat meningkatkan risiko terkena sindrom metabolik. Status pascamenopause dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas sentral dan resistensi insulin yang mungkin menjelaskan prevalensi sindrom metabolik yang berbeda antara pria dan wanita. Sebuah studi menunjukkan bahwa obesitas secara signifikan terkait dengan peningkatan risiko sindrom metabolik. Penelitian juga menunjukkan bahwa wanita hamil memiliki prevalensi obesitas yang lebih tinggi dan semakin sering seorang wanita hamil, semakin besar kemungkinan wanita tersebut menjadi obesitas, sehingga meningkatkan risiko mengalami sindrom metabolik.
Seseorang dengan sindrom metabolik dapat mengubah gaya hidup dan pola makan mereka. Sindrom metabolik telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Dengan demikian, perlu adanya kebutuhan untuk mengembangkan strategi yang ditujukan untuk pencegahan dan pengobatan sindrom metabolik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Jahangiry L, Montazeri, Najafi, Yaseri and MA Farhangi. An interactive web-based intervention on nutritional status, physical activity and health-related quality of life in patient with metabolic syndrome: a randomized-controlled trial (The Red Ruby Study). Citation: Nutrition & Diabetes (2017) 7, e240; doi:10.1038/nutd.2016.35
2. Li Y, Zhao L, Yu D, Wang Z, Ding G (2018) Metabolic syndrome prevalence and its risk factors among adults in China: A nationally representative cross-sectional study. PLoS ONE 13 (6): e0199293. https://doi.org/10.1371/journal. pone.0199293
3. Ferro Ennes Dourado, Lima Sousa, Mello Soares, Franciscato Cozzolino and Nascimento. Biomarkers of metabolic syndrome and its relationship with the zinc nutritional status in obese women. Nutr Hosp. 2011;26(3):650-654.(Tim)
























