Indramayu – Patrolinews86.com Pemandangan masuk kota “disambut sampah” adalah fenomena serius yang menandakan adanya krisis pengelolaan sampah, kesadaran lingkungan yang rendah dan potensi dampak negatif bagi kesehatan dan estetika kota.
Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat yang “dicap” sebagai kabupaten terbaik kelima oleh Kementerian Dalam Negeri (Mendagri) belum lama ini menjadi tanda tanya besar.
Pasalnya, begitu memasuki wilayah kota mangga, persis di samping kiri (dari arah Cirebon) terlihat tumpukan sampah yang melebar ke pinggir jalan dan merusak pemandangan, tepatnya di Desa Singaraja yang tak jauh dari tugu bundaran KB.
Ade Junaidi (43), pengguna jalan asal Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, mengaku jijik jika lewat ke arah perbatasan Desa Singaraja-Indramayu.
Menurutnya, pemandangan sampah ini sudah merusak tatanan kota dan menggambarkan buruknya pengelolaan sampah di wilayah Indramayu.
“Kalau saya lewat ke situ, baunya busuk menyengat, banyak lalat dan mengancam kesehatan. Padahal ini titik masuk wilayah Kota Indramayu. Di kota saja begini jorok, bagaimana di kampung-kampung dan pedalaman kota mangga?” sindir Ade.
Menurut Ade, masalah dan penyebab penumpukan sampah di perbatasan kota harus segera diatasi karena menjadi cermin kota yang jorok.
“Di sini sering kali sampah menumpuk. Kami menduga ini terjadi akibat kurangnya Tempat Pembuangan Sementara (TPS), perilaku membuang sampah sembarangan (liar) dan kurangnya pengelolaan sampah yang efektif,” jelas Ade.
Tokoh masyarakat Indramayu, Taufik yang akrab dipanggil Bang Kumis menegaskan, tumpukan sampah ini berdampak langsung pada lingkungan dan kesehatan.
Sampah yang menumpuk di pinggir jalan menyebabkan bau tak sedap, pencemaran tanah dan air (lindi), serta berpotensi menjadi sarang kuman dan penyakit.
Ini tamparan keras untuk Pemerintah Daerah Indramayu. Sebaiknya segera diatasi sebelum viral, di mana tumpukan sampah terlihat di pintu gerbang atau jalur masuk kota.
“Solusi ini diperlukan pengelolaan sampah yang sistematis, seperti pemilahan sampah organik dan anorganik, peningkatan infrastruktur TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle), serta penegakan aturan bagi pembuang sampah sembarangan. Masalah ini bukan hanya tugas dinas kebersihan, melainkan tanggung jawab kolektif untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan,” tegas Taufik.
Hasil pantauannya, sejak masuk di perbatasan Kabupaten Indramayu, mulai wilayah Kecamatan Krangkeng, Karangampel, Juntinyuat, Balongan hingga masuk di wilayah Kota Indramayu yang dekat dengan perkantoran, di pinggir jalan kiri dan kanan badan jalan tampak tumpukan sampah yang sudah merusak pemandangan.
“Di jalur Jatibarang-Indramayu juga yang melewati wilayah Desa Kebulan, Krasak hingga Desa Plumbon terdapat tumpukan sampah. Sebaiknya segera diatasi. Jika kurang armada, pemda bisa sewa mobil truk sampah. Jika sewa kendaraan dinas pejabat bisa hingga 130 unit dengan alokasi APBD Rp.9 miliar lebih, masa untuk kebutuhan langsung yang bersentuhan dengan masyarakat tidak bisa, ada apa?” tegas Taufik heran. (Agus Sulist/Cho).
























