Indramayu – Patrolinews86.com
Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) menepati janjinya. Ribuan masyarakat pesisir pantai utara menggelar aksi demonstrasi di Alun-alun Pendopo Indramayu, Kamis (30/4/2026).
Dalam aksi damai tersebut, KOMPI secara simbolis memberikan lima ekor biawak kepada perwakilan pemerintah daerah, Pelaksana Tugas (Plt) Kasat Pol PP dan Damkar, Asep Afandi. Selain hewan tersebut, massa juga menyerahkan petisi berupa tanda tangan di atas kain putih sebagai bentuk aspirasi resmi masyarakat.
Aksi yang dimulai pukul 09.48 WIB ini berjalan aman, tertib, dan kondusif, dikawal ketat oleh ratusan personel gabungan dari Polres Indramayu dan Brimob Wilayah III Cirebon. Massa bergerak dari titik kumpul di halaman Kuliner Cimanuk menuju depan kantor Bupati.
Di lokasi, agenda dimulai dengan kegiatan keagamaan berupa sholawatan dan istigosah, dilanjutkan dengan orasi oleh para tokoh massa.
Tolak Revitalisasi, Minta Ganti Rugi Layak
Koordinator Lapangan (Kordum) KOMPI, Hatta Bintang, menegaskan bahwa kedatangan mereka bertujuan menyuarakan penolakan keras terhadap program revitalisasi tambak pantura yang dinilai merugikan masyarakat.
“Kami datang secara damai. Tujuan kami ingin menyampaikan suara masyarakat pesisir Pantura menolak revitalisasi tambak,” ujar Hatta.
Salah satu tokoh petambak, Darso (48), warga Desa Karanganyar Kecamatan Pasekan, menceritakan bahwa lahan garapan tersebut bukanlah tanah sembarangan. Lahan seluas itu merupakan warisan turun-temurun sejak Indonesia merdeka tahun 1945.
“Saat itu lahan masih rawa dan hutan. Kakek saya bersusah payah mengubah hutan menjadi tambak, eh sekarang mau diambil alih dengan dalih revitalisasi. Kami jelas menolak demi keberlangsungan hidup keluarga,” ungkapnya dengan emosi.
Darso menuntut adanya keadilan. Jika lahan tetap akan diambil alih, pemerintah harus memberikan kompensasi yang setimpal. “Idealnya kerugian ini sebesar Rp 400 juta per hektar. Jika tidak diberi kompensasi yang layak, saya akan pertahankan hingga titik darah penghabisan sebagai bentuk menghargai perjuangan leluhur,” tegasnya.
Massa juga menyayangkan ketidakhadiran Bupati Indramayu, Lucky Hakim, yang dinilai tidak mau mendengar langsung aspirasi rakyat yang merasa “terdzalimi” oleh kebijakan tersebut.
Menanggapi hal itu, Plt Kasat Pol PP, Asep Afandi, mewakili pemerintah daerah menjamin seluruh aspirasi dan tuntutan akan disampaikan langsung kepada Bupati untuk ditindaklanjuti.
“Semua tuntutan KOMPI akan kami catat dan perjuangkan. Kami terima petisi ini, selanjutnya akan dilaporkan ke Bupati Lucky untuk ditindaklanjuti,” kata Asep saat menerima simbolisasi hadiah biawak.
Filosofi di Balik Hadiah Biawak
Secara umum, dalam mitos atau kepercayaan masyarakat, kehadiran biawak sering ditafsirkan sebagai pertanda baik, simbol datangnya rezeki, kelancaran urusan, serta kekuatan adaptasi.
Hal ini juga yang menjadi alasan KOMPI membawa hewan tersebut.
“Semoga rakyat Indramayu khususnya warga petambak pesisir Pantura mendapatkan keberuntungan, dan revitalisasi tambak tidak terjadi di Bumi Wiralodra. Biawak untuk pemimpin kita juga sebagai dukungan kekuatan, bukan simbol kerakusan,” pungkas Hatta.
(Agus Sulist/Red)
























