Menjadi Pemimpin Punya Modal Bakat Dan Pengalaman, Bukan Sedikit-Sedikit Mengandalkan Kehebatan Orang Lain “Pejabat Lainnya”.
Oleh : Gregorius Cristison Bertholomeus, S.H.,M.H
Ingat, tidak setiap orang ditakdirkan dengan bakat menjadi seorang pemimpin.
Tetapi untuk menjadi pemimpin tidak cukup dengan hanya mengandalkan bakat semata, tetapi juga pengalaman yang diutamakan.
Jangan juga selalu mengandalkan kehebatan orang lain (pejabat lainnya) itukan samahalnya diri kita belum mampu dan mandiri hemat saya.
Menjadi pemimpin tidak bisa dibangun dari bangku sekolah, tetapi berasal dari pengalaman hidup yang dimilikinya.
Setiap kita manusia bisa memimpin dengan baik, setengahnya bakat dan setengahnya pengalaman hidup kiranya.
Jika anda tidak punya bakat tentu mau tidak mau anda harus mencari pengalaman terlebih dahulu.
Menjadi pemimpin, menurut saya tidak ubahnya seperti seorang seniman pematung.
Ia mengibaratkan seorang pematung, seorang pematung bisa membuat patung dengan baik karena sudah ada bakat seni yang dimilikinya.
Kalau tidak, ya, paling hanya siap bahan namun tekniknya tidak ada sama sekali.
Apabila kepemimpinan yang hanya mengandalkan popularitas tanpa disertai bakat dan pengalaman tentunya akan berdampak pada hasil kinerja yang buruk.
Menjadi pemimpin mengandalkan popularitas umumnya hasilnya akan selalu buruk, saya tegaskan lagi.
Seorang pemimpin yang baik harus mampu memberikan contoh serta menyampaikan visi dengan baik.
Tetapi, sebaiknya visi yang disampaikan itu setidaknya bersifat sederhana dan mudah dimengerti oleh orang lain.
Visi itu bisa dimengerti oleh pengikut Anda,
Disini saya menceritakan pengalamannya saat diberikan amanah menjadi Koordinator Divisi Investigasi pada LSM Gerakan Rakyat Anti Korupsi, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2018 lalu.
Pada saat itu, saya hampir saja mau undurkan diri karena melihat profil pengurus LSM yang berjumlah 20 an orang, sebagian besar diisi oleh kami yang hanya lulusan SMA, yang sarjana hanya 5 orang.
Saya berusaha harus bisa menyampaikan visi pada pengurus LSM yang berumur 45 tahun yang lulusan SMA.
Menurut saya dalam memimpin sebuah organisasi ia selalu terbiasa membuat target jangka pendek dan mudah untuk dilakukan.
Bikin target yang mudah dengan dua minggu ada hasilnya agar orang jadi bersemangat.
Dulu tugas saya menemukan, dan mengumpulkan barang bukti untuk membuat terang suatu perbuatan dan pelakunya.
Hasil investigasi kemudian digunakan untuk melakukan tindakan hukum selanjutnya.
Setelah target ini selesai, saya membuat dan membagikan pamflet kepada masyarakat sekitar agar lawan korupsi.
masyarakat Pangkep dapat lebih cermat dalam memilih pemimpin yang memiliki komitmen tinggi terhadap pemberantasan korupsi.
Saya juga menyoroti minimnya perhatian lembaga lain terhadap sejarah panjang kasus korupsi yang melibatkan para kepala daerah waktu itu, Sangat sedikit lembaga yang berani mengangkat kembali kasus-kasus korupsi yang melibatkan Kepala Daerah.
Padahal, hal ini penting untuk membuka mata masyarakat mengenai seberapa seriusnya permasalahan ini.
Peringatan ini diperlukan mengingat indikasi-indikasi ke arah korupsi kembali terlihat.
Selain itu saya juga mengajak masyarakat, khususnya melalui rekan media, untuk menyadari dan mengawal proses politik yang bersih, terutama menjelang pemilihan kepala daerah mendatang.
Kami harap media dapat menyampaikan pesan ini kepada masyarakat agar mereka lebih bijak dan kritis dalam menentukan pilihan pemimpinnya.
Setelah semua berjalan dengan baik, akhirnya dari sekian banyak lulusan SMA tadi, ternyata kami mampu meningkatkan pekerjaan kami menjadi semakin baik.
Ingatlah, hidup ini seperti naik gunung.
Kadang kita harus berjuang naik tanpa bantuan siapapun.
Keberhasilan yang diraih dengan usaha sendiri akan terasa lebih membanggakan dan memuaskan.
GELSON _ PATROLINEWS86.COM
























