Membentuk Karakter Kepemimpinan Yang Efektif.
Oleh : Gregorius Cristison Bertholomeus, S.H.,M.H
Berbicara kepemimpinan karakter, bukan soal skill yang kita perdebatkan, melainkan soal karakter kepemimpinan.
Tentu karakter menjadi salah satu unsur yang cukup dominan bagi seorang pemimpin.
Karakter itu semacam watak.
Karakter atau watak seperti apa yang perlu dikembangkan oleh seseorang yang hendak menumbuhkan dirinya menjadi seorang pemimpin.
Saya termasuk orang yang tidak menganggap bahwa pemimpin itu genetik.
Bahwa dia punya talenta, iya, tetapi talenta itu hanya akan tumbuh berkembang bila diasah melalui proses pengalaman membangun dan membentuk karakter.
Kepemimpinan yang efektif sebenarnya didukung oleh dua sisi, yaitu di satu sisi berupa karakter, dan di sisi lain berupa pengetahuan dan skill kepemimpinan.
Seseorang diakui sebagai pemimpin berkarakter jika keputusan yang diambil diikuti dan ditaati dengan penuh percaya oleh mereka yang dipimpinnya.
Sehingga, ada semacam trust untuk orang-orang yang dipimpin, bahwa keputusan yang diambil oleh pemimpinnya benar.
Staf atau bawahan merasa bisa mempercayakan seluruh potensi untuk mengikuti apa yang diputuskan oleh pemimpinnya.
Sehingga mereka yang disebut pemimpin yang berkarakter melakukan upaya membangun dan mengembangkan karakter, watak, kepribadiannya, yang tentu saja tidak seperti ” membalik telapak tangan “.
Sudah pasti butuh proses yang sangat panjang, setapak demi setapak, dan diakui oleh lingkungannya bahwa ini memang patut diikuti dan didukung oleh para staf atau bawahan.
Bagaimana cara mengembangkan karakter kepemimpinan yang bisa membangun trust para staf atau bawahan?
Caranya, ialah pemimpin harus konsisten hidupnya.
Apa yang dia ucapkan tentunya dia jalankan.
Pemimpin tidak bisa melempar tanggung jawab, tidak bisa mengelak, setiap tantangan tentunya harus dihadapi.
Tunjukkan kepada anak buah, bahwa anda dapat menghadapi tantangan itu.
Proses kepemimpinan itu tidak sendirian, melainkan suatu team work.
Team work yang efektif dengan sendirinya akan memberikan informasi, pendapat, dan analisis, dengan sepenuh hati.
Bila semua itu diramu, tentunya keputusan yang ditetapkan oleh pemimpin itu akan dijalankan oleh para staf atau bawahan.
Sekalipun menantang, misalnya keputusan yang mengandung aspek krisis dan kritis orang yang diajak merasa bahwa ini benar.
Karakter kepemimpinan membuat seorang pemimpin dipercaya oleh anak buahnya.
Dia dipercaya sebagai pemimpin yang tidak akan membuat keputusan yang salah, keputusan yang jahat, yang menjerumuskan para staf atau bawahannya, atau yang sekedar menguntungkan sang pemimpin.
Melalui karakternya sudah lebih dari 50% orang percaya, bahwa sang pemimpin tidak mungkin menjerumuskan.
Di sisi lain, bisa juga pemimpin salah jika pemimpin tidak memiliki informasi yang benar, tidak memiliki pengetahuan tentang lapangan yang tepat, dan tidak memahami perkembangan lingkungan.
Berbagai pengetahuan dan skill juga mendukung efektivitas kepemimpinan, contohnya : bagaimana membangun relasi, pengetahuan dan skill komunikasi yang baik, berbagai hasil riset, dan pendapat-pendapat orang (para ahli) juga harus dipelajari oleh pemimpin supaya tidak salah dalam membuat keputusan.
Ciri_ciri pemimpin yang efektif, hemat saya, jika keputusan yang dibuat oleh pemimpin diikuti oleh orang-orang yang dipimpinnya.
Misalnya di Maumere, ketika saya terpilih menjadi rektor Universitas Gelvany di kota Maumere, kabupaten Sikka, saya mengambil keputusan x.
Bila kemudian keputusan itu dipatuhi oleh seluruh warga Universitas Gelvany, tentunya saya hanya mengontrol sedikit saja, dan tidak terlalu banyak energi yang digunakan untuk terus menerus mendorong warga Universitas Gelvany agar menjalankan keputusan x tersebut.
Dengan demikian, energi yang dimiliki oleh seorang pemimpin bisa digunakan untuk membuat yang lain, misalnya memikirkan program yang lebih tinggi atau memperlebar nilai tambah (added value) program sebelumnya.
Dalam mengambil keputusan, seorang pemimpin harus melakukan pendelegasian sebagian otoritasnya untuk dijalankan oleh orang-orang yang ada di bawahnya.
Jika anak buah sudah memiliki kemampuan yang cukup besar, delegasinya harus lebih besar.
Otoritas yang diberikan kepada anak buah juga harus lebih besar.
Sehingga, kalau dulu sebagian dari urusan itu masih dijalankan sendiri oleh pemimpin, maka kini sudah diserahkan kepada anak buah yang berada dibawahnya.
Tugas pemimpin berikutnya ialah mencari sesuatu yang belum dikerjakan oleh anak buah, baik ke atas maupun ke samping.
Yang sudah dikerjakan oleh anak buah, harus dengan rela diserahkan, tetapi tetap harus dikontrol.
Dalam hal ini ada dua fungsi pemimpin yang melekat satu sama lain, yaitu di satu sisi delegation of authority dan disisi lain harus melakukan controlling.
Reward dan phunisment harus selalu ada dalam mengelola dan mengembangkan organisasi atau perusahaan.
Akan lebih baik bila pemimpin memberikan penghargaan (reward) sebelum memberikan hukuman (phunisment).
Seorang pemimpin dalam organisasinya harus dapat mengontrol minimal dua tingkat di bawahnya (two step down).
Untuk itu, seorang pemimpin harus tahu kondisi “lapangan” sampai dua tingkat di bawahnya itu.
Kalau tidak tahu, tidak mungkin pemimpin bisa mengontrol secara efektif.
Bila terjadi kesalahan pada anak buah, pemimpin dapat memberikan arahan.
Akibat dari pelaksanaan prinsip pendelegasian ialah si pemimpin naik dan anak buah juga naik.
Maka organisasi atau perusahaan akan berkembang.
Bagi anak buah yang telah diberi delegation of authority tidak berkembang, ya itu artinya dia memang “mentok”.
Jadi intinya, apa yang sudah bisa dilakukan oleh anak buah, berikan ke anak buah.
Pemimpin harus mencari “sesuatu” yang diatasnya untuk dikerjakan.
Dengan demikian tentu organisasi atau perusahaan akan tumbuh dinamis.
Kekuatan atau kekuasaan (power) yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi anak buahnya sangat tergantung pada komunitas yang dipimpinnya.
Memimpin komunitas politik tentu berbeda dengan komunitas pendidikan atau komunitas bisnis.
Tidak bisa diseragamkan.
Tidak ada resep instan dalam menggunakan power kepemimpinannya.
Yang perlu diperhatikan oleh pemimpin ialah prinsip-prinsip tentang power atau kekuasaan yang bisa digunakan oleh pemimpin dalam mempengaruhi staf atau bawahannya.
Karakter adalah sesuatu yang khas pada diri seseorang.
Anda tidak bisa meng-copy karakter pemimpin A untuk anda gunakan untuk diri anda sendiri.
Anda bisa belajar tentang proses pengembangan karakter pemimpin A yang berhasil itu.
Dalam memimpin, team work tidak pernah tidak saya pakai.
Saya selalu menggunakan team work yang beraneka ragam.
Saya selalu mencari orang-orang dari berbagai macam keanekaragaman, tetapi termasuk dalam mengambil keputusan.
Fungsi team work itu dalam hal memberikan informasi, pendapat dan analisis.
Setelah itu, saya sebagai pemimpin-lah yang mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap segala resikonya.
Saya tidak pernah melimpahkan resiko kepada team work yang saya bentuk.
Dengan begitu, anak buah atau team work itu merasa yakin bahwa dia tidak berkorban oleh pemimpinnya.
Pemimpin yang suka mengorbankan anak buahnya pasti tidak akan memperoleh trust.
Ketika seorang menjadi pemimpin puncak (top manager), tugas atau fungsi utamanya ialah memimpin atau mengelola orang.
Saya harus tahu kemampuan, kelemahan, dan potensi dari orang yang saya pimpin.
Mengetahui kelemahan tidak saya gunakan untuk menjadikan dia sandera.
Saya akan mendorong potensinya supaya teraktualisasi untuk membantu kepemimpinan saya.
Mengelola dalam hal ini sama dengan memberdayakan staf atau anak buah.
Seorang pemimpin harus dapat melayani dan memberikan akses kepada anak buahnya agar mereka dapat bekerja secara efektif.
Tidak bisa seseorang disuruh mengerjakan sesuatu, sementara sang pemimpin tidak memberi akses atau tidak membantu menyelesaikan kesulitan yang dihadapi anak buahnya.
Fungsi untuk membangun jaringan (networking) berlaku umum untuk menjadi pemimpin efektif.
Hal ini berlaku untuk pemimpin apa saja.
Seorang pemimpin bisnis juga harus membangun jaringan dengan suplier, dengan distributor, dengan pemerintah, dan lain-lain.
Jaringan di bidang politik berbeda dengan jaringan di bidang bisnis, juga berbeda dengan membangun jaringan di bidang pendidikan.
Di bidang manajemen, sejak tahun-tahun kemarin sudah dikembangkan konsep coopetition, yaitu gabungan dari cooperation sekaligus competition.
Di dalam membangun jaringan selalu ada dua hal, yakni jaringan yang kita bangun itu akan mendukung kita di satu pihak, tetapi sekaligus juga akan menjadi pesaing kita di pihak lain.
Ketika misalnya saya menjadi rektor, tentunya saya harus membangun jaringan dengan beberapa rektor kampus lain.
Disatu sisi mereka dapat menjadi kawan (cooperation), tetapi bisa juga menjadi pesaing (competitor).
Hidup ini tidak bisa hitam putih.
Dibutuhkan kepiawaian dari seorang pemimpin mengelola jaringan itu menjadi cooperation yang lebih besar dan mengendalikan agar tidak menjadi competition yang lebih besar.
GELSON _ PATROLINEWS86.COM
























