Saeful Yunus.SE.MM
Aktivis 98 jkt :
Kecakapan berpikir dan kebijakan bertindak diperlukan manusia untuk tampil setimbang dalam sikap dan sifat kemuliaan manusia yang memperoleh rahmat dan fitrah langsung dari Tuhan. Inilah pentingnya kecerdasan spiritualitas untuk membimbing kecerdasan intelektualitas, agar tidak culas selalu merasa paling benar sendiri hingga abai pada pendapat dan saran dari orang lain. Bahkan acap kali juga pongah menolak kritik tanpa merasa perlu untuk mengkoreksi kebenaran dari keinginan untuk memperbaiki.
Orang pintar cukup banyak, tapi yang bijak menggunakan etika dan moralitas jauh melampaui kepongahan intelektualitas, sehingga terkadang rasionalitas pun gugur & Luntur dalam kepongahan yang melampaui batas, seakan-akan ide dan pendapatnya adalah yang paling kampiun dan final serta absolut tidak bisa dan tidak boleh dikoreksi oleh siapa pun. Karena itu, sikap dan sifatnya tak lagi seperti raja diraja tak dapat dibantah, tapi acap kali sudah seperti Tuhan Yang Maha Benar dengan segala firmannya. Padahal dalam pepatah lama sudah memberi isyarat : raja zalim patut disanggah, hanya raja yang alim yang layak disembah.
Contoh keteladanan dari pamong dan abdi masyarakat semakin langka, sehingga sanepo tentang guru kecing berdiri, tidak bisa mengalahkan ada murid yang kencing sambil berlari. Sebab petugas yang harus menangkap maling, justru sekarang banyak yang ikut maling. Bagaimana bingungnya warga masyarakat ketika Polisi menangkap Jaksa yang harus dipahami sebagai oknum. Begitu juga sebaliknya, Jaksa yang menangkap Polisi, seperti seorang hakim yang harus dihakimi di persidang tindak pidana korupsi. Atau petugas pencegahan penggunaan dan peredaran Narkoba, justru menjadi pemakai narkoba sekaligus agen pengedar dari obat terlarang itu.
Artinya, dari beragam kasus tersebut di atas, jelas tatanan etika dan moral yang bersangkutan sudah berada dibawah titik nol. Karena itu tidak lagi perlu dipertanyakan akhlak dan keimanan dari agama yang telah menuntun dirinya hingga tersesat jauh seperti itu, sementara pengakuannya tetap beragama dan percaya kepada Tuhan. Jadi kamuflase tampilan yang bersangkutan selama ini, tidak cuma sekedar untuk menipu orang lain, teori juga telah menipu dirinya sendiri sebagai makhluk yang munafik.
Tampaknya, hidup manusia menuju penghujung jaman pada hari-hari belakangan, semakin beragam dipenuhi kepalsuan- kepalsuan serta banyak jenis barang hingga gelar imitasi bahkan palsu. Meski hanya untuk dipakai sendiri, namun tetap mengandung unsur penipuan dalam bentuk pencitraan diri sekedar untuk menggagahi orang lain. Dalam kontek inilah etika — yang dibangun dari tradisi dan budaya hingga menjadi kesepakatan dalam untuk hidup bersama masyarakat — telah dinodai hingga moralitas ambruk, terpuruk seperti barang tua yang lapuk.
Maka itu, saatnya kini gerakan kebangkitan kesadaran pemahaman spiritual semakin mendesak untuk disosialisasikan dalam skala semesta, agar membumi dan mengetuk menurunkan cahaya terang untuk dunia, agar semua makhluk tidak saling memangsa sesama makhluk yang lain. Sebab mereka kini menjadi monster yang terus menghalau ke nyamanan dan ketentraman hati kita di sepanjang waktu.
Majalengka, 28 Oktober 2026
























