Nasib Petani Di Negeri Sendiri.
Oleh : Clarita Dewi Fortunata.
Petani, ialah Penyangga Tatanan Negara Indonesia, merupakan akronim yang melekat dan selalu dipandang khusus sebagai penjaga ketahanan pangan bangsa.
Petani masih terus berjerih payah demi membawa padi untuk ibu pertiwi.
Tetapi apakah petani sudah sejahtera dan dihargai?
Indonesia dikenal sebagai negara agraris, negara yang perekonomiannya bergantung atau ditopang oleh sektor pertanian.
Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah yang dipercaya dapat mendorong perekonomian negeri.
Sayangnya kenyataannya, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 menyatakan dalam kurun waktu hampir 3 dekade terakhir, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun.
Negara agraris juga memiliki arti negara yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian.
Tetapi kenyataannya tidak seperti itukan.
Kementerian Pertanian pada tahun 2020 telah merilis data total petani di Indonesia saat ini hanya berjumlah 33,4 juta orang dari 270 juta penduduk di Indonesia.
Kondisi ini cukup mengecewakan, fakta di lapangan tidak menunjukkan ciri-ciri negara agraris yang melekat di negeri ini.
Apalagi permasalahan yang kini dihadapi para petani tidak henti-hentinya.
Mulai dari persoalan mengenai harga gabah yang tak berpihak kepada petani, hingga stigma negatif petani yang dianggap tidak menjamin kesuksesan di masa depan.
Padahal kini yang menjadi petani sudah tidak muda lagi, jumlahnya pun sedikit sekali.
Tetapi politisi masih tega memanfaatkan kesederhanaan hidup petani, untuk dieksploitasi demi terciptanya tokoh masyarakat yang baik hati.
Sungguh aneh, saatnya para petani merasakan kemakmuran, kebahagiaan, dan keadilan.
Petani ialah profesi yang mulia, kita harus menghormatinya, karena berkat petani kita semua bisa makan.
Tidak perlu banyak peraturan dan perundang-undangan. Hanya kesejahteraan yang petani butuhkan.
Sudah bukan lagi masanya kita fokus pada peningkatan produksi hasil pertanian, melainkan regenerasi dan pengolahan hasil pertanian yang diutamakan saat ini.
Tentu saja hal ini bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah sebagai pembuat kebijakan.
Namun membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kerja sama dan kolaborasi dalam upaya memajukan sektor pertanian, serta mengatasi semua permasalahannya.
Oleh sebab itu, kita harus sadar bahwa pertanian adalah landasan utama dalam mendorong pembangunan Indonesia.
Melihat betapa pentingnya perjuangan seorang petani dalam memajukan negara ini, maka petanilah pahlawan bagi negeri ini.
Profesi petani patut kita hormati dan hargai, dengan rasa yang menjunjung tinggi sebagai bentuk pengabdian diri.
Momentum inilah ajang untuk merefleksikan diri sambil bersama-sama mengucapkan terima kasih kepada petani kiranya.
Tanpa mereka, kita pun tak akan bisa makan nasi.
Semoga pemerintah dapat membuka mata dan membuka hati, untuk bisa melihat nasib petani saat ini, agar petani dapat lebih Dipahami.
Petani ialah pahlawan bagi kami.
Makmurkanlah petani agar hidup kita menjadi berarti untuk selamanya.
Kebanggaanku adalah terlahir dari seorang petani, Siapa yang menabur benih, dia yang akan memanen.
GELSON _ PATROLINEWS86.COM
























