Kumuhnya Kehidupan Kita.
Oleh : Rikardus Nong Bunga.
Kumuh, tentunya tidak enak dinikmati, karena identik dengan pinggiran keterhempasan, dan keterlemparan.
Ia merupakan gambaran proyek kehidupan yang gagal, yang patah.
Tidak ada masa depan yang ada, hanya barisan frustasi sosial dan kegagalan, tanpa akhir dari ziarah kehidupan yang pahit.
Kerjanya cuma menebar bau tak sedap.
Tempat berlangsungnya persaingan, pertumpahan darah, cakar-mencakar, bahkan merebut rongsokan.
Ia cuma remah-remah, sisa, buangan, dari mulut-mulut rakus para penguasa, sepenggal sisi kehidupan kita.
Ia adalah pemuntahan limbah modernisasi.
Kesuraman, begitu nyata mengepung kehidupan kita.
Maka kekumuhan yang semakin menyengat, merupakan pembesaran proyek pembangunan yang kalah oleh sebuah arogansi.
Ia adalah sebuah kemunduran, yang sering diakui dengan malu-malu.
Pertarungan memenangkan kehidupan begitu kompleks, pedih, membunuh disana.
Sejarah terlihat dan teralami, sebagai sesuatu yang keras dan merusak sistem kehidupan bersama.
Kita mungkin pernah membaca atau mendengar kasus pembunuhan mahasiswa Trisakti yang begitu kejam.
kehidupan dan kematian sudah begitu murah, kekumuhan menggambarkan sebuah kekuasaan, yang tidak menampilkan diri, sebagai strategi mengharumkan sejarah, peradaban dan kemanusiaan kecuali sebuah kecenderungan untuk menindas, merancang politik kongkalikong.
Ia adalah gema dari sebuah keseriusan untuk mengenyangkan diri sendiri, dan ketidak seriusan mendongkrak kualitas hidup orang lain.
Di tengah permasalahan yang dihadapi tentang persoalan kemanusiaan seperti di Papua yang terjadi sekarang bukanlah hal yang penting bagi penguasa.
Yang penting adalah bagaimana mengatur strategi politik agar kekuasaan bisa langgeng.
Kehidupan kita memang agak aneh.
Apakah anda pernah mendengar kisah tentang orang-orang kuat para penguasa politik misalnya selalu menjadi benalu pada orang-orang kecil.
Mereka selalu mencari legitimasi kekuasaan pada yang kecil dan memperhitungkan keuntungan ekonomis dengan pura-pura mau memperbaiki nasib sama saudara yang kecil.
Ternyata orang-orang kecil, seperti saya dan anda juga memiliki kegunaan.
Meskipun hanya sebuah kegunaan yang tragis.
Soalnya, kekecilan mereka menjadi produk yang menguntungkan penguasa, tengkulak ekonomi, elite sosial bersama ambisi yang melingkupinya.
GELSON_ PATROLINEWS86.COM
























