Poto ilustrasi net
BANDUNG – Dari hasil analisis dan kajian, provinsi Jawa Barat ternyata mencatatkan angka anak tidak sekolah (ATS) tertinggi di Indonesia, hal tersebut sesuai berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), terdapat angka sebanyak 106.196 anak di Jawa Barat yang saat ini tidak mengenyam pendidikan formal.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, menanggapi fenomena tersebut menyatakan akan mengambil langkah serius dalam masalah ini bahkan diakuinya dalam waktu dekat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat akan melakukan pendataan mendalam untuk memetakan sebaran anak tidak sekolah di setiap kabupaten dan kota.
Hal ini akan menjadi perhatian kita dan nanti kita buat data, di mana saja anak-anak yang tidak sekolah itu,” ujar Dedi dilansir dari Kompas.com.
Dedi juga menjelaskan bahwa pendataan ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan dasar untuk menentukan langkah penanganan yang tepat guna dan tepat sasaran.
Setelah data terkumpul, pemerintah akan langsung turun ke lapangan untuk membujuk anak-anak kembali ke bangku sekolah.
“Nanti didatangi oleh aparat desa, dinas pendidikan kabupaten/kota, provinsi, dan tim pengawas untuk didorong kembali sekolah,ucap dia.
Salah satu kebijakan kunci yang disiapkan Pemprov Jabar adalah jaminan biaya pendidikan dimana Dedi menegaskan bahwa masyarakat tidak mampu tidak perlu mencemaskan biaya sekolah, baik di institusi negeri maupun swasta. Sekolah negeri dan swasta untuk masyarakat tidak mampu gratis. Di tingkat SD juga sudah ditanggung pemerintah daerah,” ucap Dedi.
Dirinya menekankan, khusus untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), pembiayaan sudah sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah kabupaten dan kota, Oleh karena itu, ia meminta peran aktif orangtua untuk memastikan anak-anak mereka tetap bersekolah.
Daftar daerah dengan angka putus sekolah tertinggi di Jawa Barat berdasarkan data statistik Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat tahun ajaran 2024/2025, terdapat beberapa daerah yang mencatatkan angka putus sekolah cukup tinggi mulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK.
Berikut adalah rincian 10 daerah dengan jumlah siswa putus sekolah tertinggi di masing-masing jenjang:
Jenjang Sekolah Dasar (SD)
Kabupaten Bekasi: 545 siswa
Kabupaten Bogor: 533 siswa
Kabupaten Sukabumi: 485 siswa
Kabupaten Karawang: 418 siswa
Kabupaten Cianjur: 394 siswa
Kabupaten Garut: 383 siswa
Kabupaten Bandung: 345 siswa
Kabupaten Cirebon: 228 siswa
Kabupaten Subang: 221 siswa
Kota Bekasi: 209 siswa
Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Kabupaten Bogor: 254 siswa
Kabupaten Garut: 218 siswa
Kabupaten Cianjur: 144 siswa
Kabupaten Bandung: 85 siswa
Kabupaten Bekasi: 73 siswa
Kabupaten Sukabumi: 60 siswa
Kabupaten Indramayu: 57 siswa
Kabupaten Karawang: 56 siswa
Kabupaten Cirebon: 39 siswa
Kabupaten Tasikmalaya: 35 siswa
Jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)
Kabupaten Garut: 74 siswa
Kabupaten Bandung Barat: 28 siswa
Kabupaten Cianjur: 27 siswa
Kabupaten Tasikmalaya: 24 siswa
Kabupaten Bogor: 24 siswa
Kabupaten Bandung: 23 siswa
Kota Bandung: 17 siswa
Kabupaten Bekasi: 14 siswa
Kabupaten Sukabumi: 9 siswa
Kabupaten Indramayu: 8 siswa
Jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Kabupaten Bogor: 99 siswa
Kabupaten Cianjur: 86 siswa
Kabupaten Subang: 77 siswa
Kabupaten Sukabumi: 64 siswa
Kabupaten Garut: 52 siswa
Kabupaten Purwakarta: 48 siswa
Kabupaten Indramayu: 44 siswa
Kabupaten Karawang: 42 siswa
Kabupaten Bandung Barat: 39 siswa
Kabupaten Cirebon: 35 siswa
Dengan adanya Pemetaan data ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemangku kepentingan untuk melakukan intervensi kebijakan yang lebih spesifik, terutama di wilayah-wilayah dengan angka putus sekolah yang menonjol.
Lip ds
























