Indramayu – Patrolinews86.com – Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) akan kembali turun ke jalan menolak proyek revitalisasi tambak pantura.
Pada demo jilid 2 ini, KOMPI turun ke jalan dengan kekuatan massa sepuluh ribu orang.
Dalam surat pemberitahuan (ijin) demo yang ditunjukan ke Kapolres Indramayu bernomor 14/04/KOMPI/2026 itu, KOMPI juga menyertakan tuntutan secara khusus ke Bupati Indramayu, Lucky Hakim yakni “Batalkan MoU Bupati Indramayu dengan KKP RI Nomor : 01/DPJB/KKP/NIK/VI/2025”.
Dalam surat pemberitahuan demo yang sudah bocor dan beredar sejak Sabtu malam (25/4/2026), demo jilid 2 ini akan digelar pada Kamis, 30 April 2026 dan dipusatkan pada satu tempat di kantor Pendopo Bupati Indramayu dengan titik kumpul di Area Parkir Kuliner Cimanuk pada pukul 09.00 WIB.
Sedangkan dalam bunyi surat tersebut alasan demo itu karena dipicu tidak adanya respon dari Bupati Indramayu Lucky Hakim atas persoalan yang menimpa ribuan petambak terkait adanya rencana PSN (Program Strategis Nasional) Revitalisasi Tambak Pantura Ikan Nila Salin sistem intensif di kawasan tanah perhutani dan tanah timbul di wilayah empat kecamatan pesisir pantura.
Demo jilid 2 itu juga dipicu karena aksi KOMPI pada 2 April 2025 lalu dan dilanjut berkirim surat Audensi ke Bupati Indramayu dengan nomor 12/04/KOMPI/2026 tertanggal 15 April 2026, namun tidak direspon.
“Ini menunjukan bahwa Bupati Indramayu tidak menganggap penting dan cenderung menyepelekan persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir yang terdzolimi dengan adanya PSN Revitalisasi berupa pengambilalihan (perampasan) lahan garapan petambak yang menyebar di empat kecamatan,” demikian bunyi surat tersebut yang di tandatangani Koordinator Umum (Kordum) KOMPI, Hatta Bintang dan Ketua KOMPI, H. Darsam.
Kordum Aksi, Hatta Bintang dan Sekertaris KOMPI, Fahmi Labib yang dihubungi awak media ini Minggu dini hari, (26/4/2026) pukul 00.02 WIB membenarkan atas beredarnya surat pemberitahuan demo jilid 2 tersebut. “Benar KOMPI akan demo jilid 2 dengan massa 10 ribu orang dari empat kecamatan,” kata Hatta Bintang. (Agus Sulist/Cho)
























