Panasnya Perhelatan Politik Nian Sikka Menuju Puncak Pilkada 27 November 2024, Sebuah Tinjau Situasi Terkini.
Oleh : Antonius Gerardus Tori Parera.
Pemilihan Kepala Daerah serentak terjadi pada tanggal 27 November 2024, sekarang dalam tahapan kampanye yang merupakan sebuah upaya para kandidat bersama tim pemenangan masing-masing mempengaruhi hati rakyat pemilih untuk menjatuhkan pilihan pada paketnya dan memperoleh kemenangan.
Di Kabupaten Sikka ada 4 pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dengan sapaan keren nama paket, ialah : ROMANTIS untuk Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos., M.Si dan Martinus Wodon, A.Par, SAR untuk Suitberus Amandus dan Robertus Ray, S.Sos., FLORIDA Pasangan Drs. Mekeng P. Florianus dan Alfridus Melanus Aeng, S.H, dan JOSS pasangan Juventus Prima Yoris Kago dan Ir. Simon Subandi Supriadi .
Para pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah bersama tim terlihat sibuk hari demi hari dalam masa kampanye terus bergerak, baik siang maupun malam, dari satu tempat ke tempat lain.
Tanpa lelah dengan semangat termotivasi akan menjadi Bupati dan wakil Bupati menemui rakyat memaparkan visi, misi dan program kerja bila terpilih untuk membangun daerah ini.
Kampanye yang dilakoni Itu tidak hanya sebatas tatap muka dalam rapat baik tertutup maupun terbuka, tetapi sesuai peraturan dan jadwal yang ditetapkan KPU Sikka juga berupa kampanye digital melalu Facebook, Instragram, Tiktok YouTube dan media sosial lainnya.
Dari pantauan pergerakan para pasangan calon pada setiap jalan, lorong, sudut dan bok baik di Kota Maumere, maupun di luar kota wilayah Kabupaten Sikka, di setiap kecamatan sampai di kelurahan atau desa semakin semaraknya pampangan baliho wajah-wajah petarung perhelatan demokrasi di daerah ini.
Kini terkesan berlomba-lomba tim kerja pemenangan memasangkan baliho jagoan yang diusungnya.
Sungguh tampilan suasana politik demokrasi daerah ini terasa mulai memanas.
Memanas tak hanya antar kandidat dan tim keempat pasangan calon tetapi adanya dikotomi kepentingan suku, golongan atau etnis.
Lebih terasa lagi suasana tersebut terbawa sampai terlihat di laman-laman media sosial.
Seperti Facebook pada group Suara Rakyat Sikka, terusik berbagai kalimat-kalimat saling nyinyir, menjagokan pasangan tertentu, menampilkan kehebatan pasangan calonnya sambi meremehkan yang lain sengit menguak.
Fenomena promosi dan saling bulih bukannya tidak mungkin akan terus menggelinding agar pemilih bisa terpengaruh dan mindset pilihan akan terpola dan terbentuk.
Semua ini hanya punya maksud dan tujuan menangkan paketnya.
Ada isu miring terhadap paket tertentu pun mulai terasa, seperti untuk incumbent apa yang dilakukan selama menjabat.
Selain itu ada isu soal pendidikan, pengalaman memimpin, bahkan isu miring lain yang sangat personal.
Riak-riak politik demokrasi seperti ini nampaknya sangat membutuhkan peran penyelenggara dalam hal ini Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sikka untuk aktif berperan mengingatkan, mengawal dan mengawasi proses demokrasi yang sedang berjalan ini.
Bisakah Bawaslu Sikka berperan lebih aktif?
GELSON _ PATROLINEWS86.COM
























