Siraman qalbu oleh Harun .Sutejo
Kehidupan modern saat ini dinilai membuat banyak manusia semakin sibuk mengejar urusan duniawi hingga melupakan tujuan hidup yang sesungguhnya. Fenomena tersebut menjadi renungan mendalam bahwa manusia kerap menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya demi harta, jabatan, serta pengakuan sosial, namun lalai mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
“Manusia hari ini begitu sibuk mengejar dunia. Pagi sampai malam tenaga diperas demi harta, jabatan, dan pengakuan manusia. Banyak yang rela mengorbankan waktu, kesehatan, bahkan keluarganya hanya demi kehidupan yang terlihat mewah di mata orang lain. Namun di tengah kesibukan itu, sering kali manusia lupa bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tujuan akhir selamanya,” demikian pesan renungan yang disampaikan pada Jumat (8/5/2026).
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dianggap terlalu fokus memperindah kehidupan dunia, namun melupakan kewajiban spiritual dan hubungan dengan Sang Pencipta. Kemewahan materi terus dikejar, sementara ibadah dan amal kebaikan kerap ditunda.
“Kita terlalu sibuk mempercantik kehidupan dunia, tetapi lupa memperbaiki bekal untuk akhirat. Rumah dibangun semewah mungkin, kendaraan terus diganti, tabungan terus ditambah, tetapi ibadah sering ditunda, shalat dilalaikan, dan hati semakin jauh dari Allah. Manusia takut miskin di dunia, tetapi tidak takut miskin amal di akhirat,” lanjut pesan tersebut.
Renungan ini juga mengingatkan bahwa segala bentuk kekayaan, jabatan, dan kemewahan pada akhirnya tidak akan mampu menyelamatkan manusia dari kematian. Semua yang dimiliki di dunia hanya bersifat sementara dan akan ditinggalkan ketika ajal datang menjemput.
“Tidak ada harta yang ikut masuk ke liang kubur. Tidak ada jabatan yang mampu menolong saat jasad sudah terbujur kaku. Tidak ada kemewahan yang bisa menyelamatkan ketika malaikat maut datang menjemput. Garis akhir dari kehidupan manusia hanyalah satu: kematian.”
Pesan tersebut menekankan bahwa kematian merupakan pengingat bagi setiap manusia bahwa kehidupan dunia bukan tempat tinggal abadi. Amal ibadah dan kebaikan disebut sebagai satu-satunya bekal yang akan menemani manusia setelah meninggalkan dunia.
“Kematian adalah pengingat bahwa dunia bukan tempat tinggal abadi. Hari ini mungkin seseorang terlihat kuat, kaya, dan dihormati, tetapi besok bisa saja namanya tinggal kenangan. Dunia yang diperebutkan mati-matian pada akhirnya hanya akan diwariskan kepada orang lain. Sedangkan amal, ibadah, dan kebaikanlah yang akan menemani manusia sampai ke alam kubur.”
Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar tidak terlena dalam kesenangan duniawi hingga melupakan batas usia kehidupan. Waktu yang terus berjalan disebut tidak akan pernah kembali, sementara usia manusia semakin berkurang setiap harinya.
“Betapa banyak manusia tertawa dalam kemaksiatan seolah hidup akan selamanya. Mereka lupa bahwa umur terus berkurang setiap detik. Masa muda perlahan habis. Tubuh yang kuat akan melemah. Rambut akan memutih. Dan suatu hari, tanpa bisa ditolak, kematian akan datang menghentikan semua urusan dunia.”
Di akhir pesan, masyarakat diajak untuk memperbaiki diri selagi masih diberikan kesempatan hidup. Tidak hanya mengejar materi dan kesuksesan dunia, tetapi juga memperbanyak amal, ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Selagi masih diberi waktu hidup, perbaikilah diri. Jangan hanya sibuk mengumpulkan materi, tetapi kumpulkan juga amal dan kebaikan. Dekatkan diri kepada Allah sebelum datang hari di mana penyesalan tidak lagi berguna. Sebab ketika kematian tiba, manusia baru sadar bahwa dunia yang selama ini dikejar ternyata tidak mampu membeli satu detik tambahan umur untuk kembali memperbaiki kesalahan.”
Renungan tersebut menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat sangat penting agar manusia tidak terjerumus dalam kelalaian yang berujung penyesalan di kemudian hari.

























