Klaten – Patrolinews86.com.
Sekertaris Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten H. Moch.Isnaeni mengatakan bahwa momen halal bi halal adalah momen istimewa setelah Ramadan untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan menyatukan hati.
Hal itu disampaikan Moch.Isnaeni saat memberikan tausyiyah pada acara halal bi halal keluarga besar Kelurahan Gergunung Klaten utara yang juga mengundang ketua RT/RW, tokoh lkntas agama dan tokoh masyarakat di Aula Kantor kelurahan setempat, Rabu ( 08/04/2026 ).
Menurutnya halal bi halal lebih dari sekadar tradisi, momen ini merupakan ajakan nyata untuk memperbaiki diri, meningkatkan integritas, serta memperkuat sinergi demi masa depan yang lebih baik dan harmonis.
“Makna mendalam halal bi halal adalah untuk menjadi lebih baik yakni
penyucian hati dan saling memaafkan di saat yang tepat untuk melepaskan dendam, saling memaafkan, dan membersihkan hati dari noda prasangka.
Dengan halal bi halal akan mempererat silaturahmi yakni menyambung kembali hubungan yang mungkin renggang, memperkokoh persaudaraan dan rasa kekeluargaan.
“Momen halal bi halal ini dapat menyatukan visi dan langkah, baik dalam lingkup keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat, untuk produktivitas yang lebih baik.” kata Moch.Isnaeni.
Ditambahkan bahwa acara seperti ini juga mampu menumbuhkan kepedulian sosial, pelayanan tulus, serta integritas dalam kehidupan sehari-hari.
“Halal bihalal pada dasarnya adalah upaya bersama untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tulus, dan harmonis setelah sebulan penuh berpuasa. ” pungkasnya.
Sementara itu Lurah Gergunung Klaten Utara H. Maryadi dalam sambutannya mengatakan setiap kali Idul fitri tiba, umat Islam tak hanya merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga melanjutkannya dengan tradisi unik yang hanya ada di negeri ini, yaitu halal bihalal.
“Tradisi ini menjadi momen penting untuk berkumpul, saling memaafkan, dan mempererat hubungan sosial, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun institusi.” katanya.
Ditambahkan oleh Lurah Gergunung,bahwa secara etimologi, istilah “halal bihalal” memang berasal dari kata Arab, namun penggunaannya dalam konteks budaya adalah khas Indonesia.
“Meski tidak ditemukan dalam literatur Islam klasik, istilah ini mencerminkan nilai-nilai luhur dalam ajaran Islam, yakni saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarmanusia.” ujarnya.
( Budiharjo )























