Boyolali – Patrolinews86.com.
Rutan Kelas IIB Boyolali terus mendorong kegiatan pembinaan bagi warga binaan. Beragam aktivitas dilakukan, mulai dari pertanian hingga kegiatan keagamaan, guna membekali mereka dengan keterampilan dan meningkatkan kualitas spiritual.
Dalam kunjungan awak media ke Rutan Kelas IIB Boyolali, Jumat (24/10/2025), turut mendampingi Dhita Adi Nugroho selaku Kepala Seksi Pelaksana, Mirsa Hendrawan, S.Tr.Pas.M.H. sebagai Kepala Satuan Pengamanan, dan Akbar
Febri Handrian,S.Tr.Pas, Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan. Beliau bertiga mewakili Kepala Rutan Kelas IIB Boyolali Bpk Ervans Bahrudin Mulyanto, Amd.IP, SH, M.H yang baru Tugas Luar Kota.
Rutan yang berlokasi di Desa Masahan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, berdiri di atas lahan seluas 14.000 meter persegi, terdiri dari 2.500 meter persegi lahan pertanian dan 11.500 meter persegi area bangunan.
Pantauan di lapangan menunjukkan warga binaan aktif melakukan berbagai kegiatan pertanian, seperti menanam cabai, timun, ketela, semangka, dan melon. Sebagian warga tampak mencangkul, menyiangi tanaman, hingga memanen melon hasil budidaya hidroponik. Salah satu warga binaan menyebutkan, panen perdana melon dilakukan setelah tanaman berusia sekitar 70 hari.
Melon Madu hasil Hidroponik di pertanian dalam Rutan, benar benar rasa manis daging tebal dan empuk dagingnya( red )
Selain kegiatan produktif di bidang pertanian, pembinaan keagamaan juga menjadi perhatian. Setiap pagi, warga binaan rutin mengikuti pengajian dan pembacaan semaan Al-Qur’an dengan penuh khusyuk dan semangat.
Saat awak media datang bertepatan dengan acara Tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Ustad Mulyono, dari KUA Mojosongo dan memberikan keterangan, Niat kami untuk menanamkan nilai nilai agama dari hati ke hati disampaikan dengan senyum, dan harapan saya selama Warga Binaan menjalani hukuman ini benar benar untuk interopeksi dan menjadikan hati pikiran yang kuat dalam keimanan,ujarnya.
Kepala Seksi Pelaksana menjelaskan, kapasitas ideal Rutan Boyolali sebenarnya hanya untuk 156 orang. Namun saat ini, jumlah penghuni mencapai 322 orang, terdiri dari 307 pria dan 15 wanita, atau bisa dibilang kelebihan kapasitas over luct.
Pembimbing warga binaan perempuan, Dewi, menyampaikan bahwa pembinaan terhadap penghuni wanita terus dilakukan melalui berbagai kegiatan keterampilan seperti merajut dan tata boga, termasuk pembuatan keripik. Dari 15 warga binaan perempuan tersebut, sebagian besar merupakan narapidana kasus narkoba dengan masa hukuman hingga tujuh tahun. Salah satunya diketahui berasal dari Sukoharjo.
Dewi berharap pembinaan dengan pendekatan kemanusiaan ini dapat membantu para warga binaan agar kelak dapat kembali ke masyarakat dengan aman, nyaman, dan memiliki keterampilan untuk hidup mandiri.
( Samira Budiharjo )
























