Kab. Bandung, Patrolinews86 | Beberapa waktu lalu, sejumlah wali murid dari SDN Cijagra 1, SDN Cijagra 3, dan SMP Mekarpawitan di Desa Karangpawitan, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengembalikan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada anak-anak mereka. Aksi tersebut kemudian menjadi viral setelah videonya tersebar luas di media sosial.
Menu MBG yang dibagikan di sekolah-sekolah tersebut berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paseh 1. Dalam video yang beredar, terlihat beberapa wali murid datang berbondong-bondong ke dapur SPPG Paseh 1 untuk mengembalikan bungkusan makanan MBG yang sebelumnya telah diterima oleh para siswa.
Saat ditemui awak media, Sabtu (14/3), pihak dapur SPPG yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa memang benar terjadi pengembalian paket MBG oleh sebagian wali murid. Namun hal tersebut dinilai cukup mengherankan, mengingat berita acara penyerahan makanan telah ditandatangani oleh pihak sekolah.
Lebih lanjut dijelaskan, dari total 3.064 penerima manfaat (PM), hanya 596 PM yang mengembalikan paket MBG. Pengembalian tersebut dinilai tidak memiliki dasar maupun alasan yang jelas. Pihak dapur menduga adanya penggiringan opini yang seolah-olah ingin menjelekkan program pemerintah terkait pembagian Makanan Bergizi Gratis tersebut.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, kegaduhan terkait program MBG di Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, diduga dipicu oleh adanya ajakan dari oknum guru wali kelas di salah satu Sekolah Dasar Negeri, yang mengimbau para wali murid untuk bersama-sama mengembalikan atau menolak paket makanan MBG.
Ahli gizi SPPG Paseh 1 yang juga enggan disebutkan namanya menambahkan bahwa pihaknya sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa makanan yang diberikan kepada para siswa telah disesuaikan dengan standar gizi yang layak dikonsumsi anak-anak.
“Menu yang dibagikan terdiri dari 1 cup puding, 5 buah bola ubi ungu, dan 4 biji buah kurma. Dengan anggaran sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000, makanan tersebut telah diperhitungkan nilai gizinya dan masuk kategori layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak,” ujarnya.
Pihak SPPG Paseh 1 berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di kemudian hari. Mereka juga menyatakan akan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan serta terbuka menerima masukan, kritik, dan saran dari berbagai pihak demi perbaikan program ke depan. ***























