Faktor-Faktor Penyebab Perselingkuhan: Ketidakpuasan, Komunikasi yang Buruk, dan Kurangnya Komitmen.

Rabu, 12 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Faktor-Faktor Penyebab Perselingkuhan: Ketidakpuasan, Komunikasi yang Buruk, dan Kurangnya Komitmen.

Oleh : Yoseph Agfratimo.

Perselingkuhan adalah fenomena yang sering terjadi dalam hubungan, namun penyebabnya sangat kompleks dan beragam.
Dalam pandangan saya, ada beberapa faktor utama yang dapat memicu perselingkuhan, yang melibatkan dinamika hubungan itu sendiri, kepribadian individu, dan faktor eksternal lainnya.

Pertama, ketidakpuasan dalam hubungan menjadi penyebab paling mendasar.
Ketika salah satu pasangan merasa tidak lagi mendapatkan perhatian, kasih sayang, atau kepuasan emosional dan fisik, mereka bisa mencari pemenuhan kebutuhan tersebut di luar hubungan.
Ketidakpuasan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti kurangnya komunikasi yang terbuka, perbedaan harapan dalam hubungan, atau bahkan perasaan kesepian meskipun sudah memiliki pasangan.
Jika pasangan tidak mampu atau tidak mau berbicara secara jujur mengenai perasaan mereka, masalah ini akan terus menumpuk dan menciptakan jarak yang akhirnya membuka celah bagi perselingkuhan.

Selain itu, faktor ego dan keinginan untuk mendapatkan validasi juga sering menjadi pemicu.
Beberapa orang mungkin merasa kurang dihargai atau diabaikan dalam hubungan mereka, dan mencari perselingkuhan sebagai cara untuk membuktikan diri mereka masih menarik, dihargai, atau bahkan lebih berkuasa.
Di dunia yang semakin terhubung secara digital ini, mudah bagi seseorang untuk mendapatkan perhatian atau kasih sayang dari orang lain melalui media sosial, yang kadang membuat mereka tergoda untuk melampaui batas-batas kesetiaan dalam hubungan mereka.

Namun, tidak hanya ketidakpuasan yang menjadi pemicu utama perselingkuhan.
Kepribadian dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang juga turut berperan besar.
Individu yang memiliki nilai yang lebih longgar terhadap komitmen dan kesetiaan, atau yang kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap hubungan, lebih cenderung untuk melibatkan diri dalam perselingkuhan.
Kepribadian narsistik atau kurangnya empati bisa membuat seseorang lebih egois dalam bertindak, bahkan jika itu merugikan orang lain.
Selain itu, beberapa orang mungkin memiliki pola pikir yang tidak menganggap perselingkuhan sebagai sesuatu yang serius atau merusak, yang berujung pada pengambilan keputusan yang salah.

Faktor eksternal, seperti lingkungan sosial dan norma-norma budaya, juga dapat mempengaruhi perilaku ini.
Jika seseorang berada dalam lingkungan yang permisif terhadap perilaku tersebut, misalnya, di antara teman-teman yang sering menggampangkan perselingkuhan atau melihatnya sebagai hal yang wajar, mereka mungkin merasa bahwa perilaku ini tidak akan dikenai konsekuensi serius atau bisa diterima.
Di sisi lain, adanya tekanan sosial atau ketegangan dalam kehidupan pribadi, seperti masalah pekerjaan, stres, atau ketidakbahagiaan pribadi, dapat mendorong seseorang untuk mencari pelarian dalam hubungan luar, sebagai bentuk pelampiasan atau pelarian dari masalah mereka.

Namun, dalam pandangan saya, perselingkuhan pada akhirnya adalah hasil dari kurangnya komunikasi yang sehat dan rendahnya komitmen dalam hubungan.
Komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting untuk mengatasi ketidakpuasan yang mungkin timbul dalam hubungan. Ketika dua orang berkomitmen untuk mendengarkan satu sama lain dan bekerja sama untuk memperbaiki hubungan, perselingkuhan seharusnya bisa dihindari.
Sebaliknya, ketika salah satu pihak memilih untuk menghindari masalah atau memilih untuk berlarian dari masalah, perselingkuhan bisa menjadi pilihan yang mereka anggap lebih mudah meskipun pada akhirnya akan merusak hubungan yang lebih besar.

Secara keseluruhan, saya percaya bahwa perselingkuhan adalah hasil dari banyak faktor yang saling berinteraksi, namun penyebab utama yang paling signifikan adalah kurangnya komunikasi dan komitmen dalam hubungan.
Tidak ada alasan yang dapat membenarkan pengkhianatan dalam sebuah hubungan, dan setiap individu yang terlibat dalam perselingkuhan harus bertanggung jawab atas tindakannya, baik itu menyangkut perasaan pasangan atau dampaknya terhadap hubungan itu sendiri.

GELSONIELA.

Berita Terkait

Dugaan kasus Dana UPK / BUMDESMA Sindangagung Kuningan Tetapkan 3 Tersangka kerugian mencapai Rp1,1 Miliar
Akhirnya Penyelidikan Terkait Pencurian Beras Bantuan Pangan Di Desa Ambit Mulai Ada Titik Terang Dan Muncul Terduga Para Pelakunya
Adakah Batasan Jumlah Gratifikasi..?
Mahasiswa Cipayung Plus Indramayu Lakukan Demo Gelar 25 Tuntutan
BISAKAH MENGGUGAT HARTA GONO-GINI SETELAH ADA AKTA NOTARIS..?
Mantan Sekretaris DPRD Indramayu Ditahan Penyidik Kejati Diduga Kasus Tunjangan Perumahan Anggota DPRD
Monster Pemangsa Makhluk Yang Lemah
APAKAH BISA PERKARA PERBUATAN MELAWAN HUKUM (PMH) DI SELESAIKAN MELALUI ARBITRASE
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:27 WIB

Dugaan kasus Dana UPK / BUMDESMA Sindangagung Kuningan Tetapkan 3 Tersangka kerugian mencapai Rp1,1 Miliar

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:45 WIB

Adakah Batasan Jumlah Gratifikasi..?

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:25 WIB

Mahasiswa Cipayung Plus Indramayu Lakukan Demo Gelar 25 Tuntutan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:04 WIB

BISAKAH MENGGUGAT HARTA GONO-GINI SETELAH ADA AKTA NOTARIS..?

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Mantan Sekretaris DPRD Indramayu Ditahan Penyidik Kejati Diduga Kasus Tunjangan Perumahan Anggota DPRD

Berita Terbaru