*Siraman Qolbu* oleh H Sutejo & Abah dodoy
Dalam perjalanan hidup, setiap manusia akan mengalami berbagai fase. Ada saatnya berada dalam kekurangan, ada pula saatnya diberi kelapangan rezeki oleh Allah SWT. Namun, kekayaan dan jabatan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah.
Kesombongan sering kali muncul ketika seseorang merasa telah berhasil, memiliki harta yang melimpah, atau berada pada posisi yang tinggi. Padahal, semua yang dimiliki hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Sang Pencipta. Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk berlaku angkuh dan merendahkan orang lain.
Orang yang bijaksana akan tetap rendah hati meskipun hidup berkecukupan. Ia menyadari bahwa keberhasilan yang diraih bukan semata-mata karena kekuatannya sendiri, melainkan karena izin dan rahmat Allah SWT. Rasa syukur yang tulus akan melahirkan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan hidup.
Membantu orang yang membutuhkan bukanlah tindakan yang mengurangi harta, melainkan jalan untuk mendatangkan keberkahan. Tangan yang gemar memberi akan lebih mulia daripada tangan yang hanya menerima. Senyum, perhatian, dan bantuan sekecil apa pun dapat menjadi penyemangat bagi mereka yang sedang berjuang.
Marilah kita menjaga hati agar tidak terjerumus dalam kesombongan. Jadilah pribadi yang rendah hati, bersyukur atas setiap nikmat, dan senantiasa peduli terhadap sesama. Sebab, pada akhirnya yang akan dikenang bukanlah seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan seberapa besar manfaat yang telah kita berikan kepada orang lain.
“Jangan sombong saat kaya, jangan putus asa saat miskin. Tetaplah rendah hati, karena kemuliaan sejati terletak pada akhlak yang baik dan kepedulian kepada sesama.”

























