From Jakarta to the World: The Journey of Wilson Lalengke

Sabtu, 11 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

New York City – It was a quiet Sunday evening, October 5, 2025, when Wilson Lalengke stood at Soekarno-Hatta International Airport, surrounded by family and colleagues. The air was thick with anticipation. He wasn’t just boarding a flight—he was stepping into history. As Chairman of the Indonesian Citizen Journalists Association (Persatuan Pewarta Warga Indonesia – PPWI), Wilson had been invited to speak before the United Nations Fourth Committee in New York. His mission? To deliver a petition on behalf of those whose voices had long been silence.

The flight to New York was long, but for Wilson, it was a time of reflection. He thought about the stories he’d heard from victims of injustice, the journalists who risked everything to report the truth, and the communities across Asia and Africa still struggling for basic freedoms. He wasn’t just carrying a speech—he was carrying their hope.

When he arrived in New York on October 7, the city greeted him with its usual buzz. But inside the UN Headquarters, the atmosphere was solemn. Delegates from around the world gathered to discuss issues of decolonization, peacekeeping, and human rights. And there, amid the suits and diplomatic jargon, stood Wilson—a citizen journalist from Indonesia, ready to speak truth to powe

His address to the Fourth Committee was powerful. He spoke of extrajudicial killings, arbitrary detentions, and the erosion of political freedoms. He didn’t mince words. He didn’t speak in abstractions. He told real stories—of real people. And in doing so, he reminded the world that justice isn’t just a policy—it’s a promise.

Over the next few days, Wilson met with UN officials, civil society leaders, and members of the international press. He shared Indonesia’s perspective, but more importantly, he listened. He listened to stories from Moroccan Sahara, from Myanmar, from the Congo. And in those conversations, he found common ground: the universal yearning for dignity, for voice, for peace.

And now, tonight—Saturday, October 11—Wilson is once again at an airport. This time, it’s JFK in New York. At 10:00 PM, he’ll board his Etihad Airways flight back to Jakarta. He’s tired, no doubt. But he’s also fulfilled. Because he didn’t just attend a meeting—he made a mark.

He’s expected to land in Jakarta on Monday morning, October 13, at 10:00 AM WIB. And when he does, he won’t just be returning as a traveler. He’ll be returning as a messenger—carrying with him the echoes of a global conversation, and the responsibility to keep that conversation alive at home.

Wilson’s journey reminds us that diplomacy isn’t just for politicians. It’s for anyone with the courage to speak, the humility to listen, and the conviction to act. From Jakarta to New York and back again, he’s shown that one voice—when grounded in truth—can resonate across ocean.

And that, perhaps, is the most powerful story of all. (Mr. Mc’Ro)

– Dalam bahasa indonesia –

Dari Jakarta Menuju Dunia: Perjalanan Wilson Lalengke

Kota New York – Minggu malam yang tenang, 5 Oktober 2025, Wilson Lalengke berdiri di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dikelilingi keluarga dan rekannya. Udara dipenuhi antisipasi. Dia tidak hanya menaiki pesawat—dia melangkah ke dalam sejarah. Sebagai Ketua Persatuan Jurnalis Warga Indonesia (PPWI), Wilson diundang untuk berbicara di hadapan Komite Keempat PBB di New York. Misinya? Untuk menyampaikan petisi atas nama mereka yang suaranya telah lama dibungkam.

Penerbangan ke New York memang panjang, tapi bagi Wilson, ini adalah saat refleksi. Ia memikirkan kisah-kisah yang didengarnya dari para korban ketidakadilan, para jurnalis yang mempertaruhkan segalanya untuk melaporkan kebenaran, dan komunitas-komunitas di Asia dan Afrika yang masih berjuang untuk kebebasan dasar. Dia tidak hanya menyampaikan pidato—dia membawa harapan mereka.

Ketika dia tiba di New York pada tanggal 7 Oktober, kota itu menyambutnya dengan suasana seperti biasanya. Namun di dalam Markas Besar PBB, suasananya khusyuk. Delegasi dari seluruh dunia berkumpul untuk membahas isu-isu dekolonisasi, pemeliharaan perdamaian, dan hak asasi manusia. Dan di sana, di tengah tuntutan dan jargon diplomatik, berdirilah Wilson—seorang jurnalis warga dari Indonesia, yang siap menyampaikan kebenaran kepada pihak yang berkuasa

Pidatonya di depan Komite Keempat sangat kuat. Ia berbicara tentang pembunuhan di luar proses hukum, penahanan sewenang-wenang, dan terkikisnya kebebasan politik. Dia tidak berbasa-basi. Dia tidak berbicara secara abstrak. Dia menceritakan kisah nyata—tentang orang-orang nyata. Dan dengan melakukan hal ini, ia mengingatkan dunia bahwa keadilan bukan sekedar kebijakan—tetapi sebuah janji.

Selama beberapa hari berikutnya, Wilson bertemu dengan para pejabat PBB, pemimpin masyarakat sipil, dan anggota pers internasional. Ia berbagi perspektif Indonesia, namun yang lebih penting, ia mendengarkan. Dia mendengarkan cerita dari Sahara Maroko, dari Myanmar, dari Kongo. Dan dalam percakapan itu, dia menemukan titik temu :kerinduan universal akan martabat, suara, dan perdamaian.

Dan sekarang, malam ini—Sabtu, 11 Oktober—Wilson sekali lagi berada di bandara. Kali ini JFK di New York. Pukul 22.00, dia akan menaiki penerbangan Etihad Airways kembali ke Jakarta. Dia lelah, tidak diragukan lagi. Tapi dia juga terpenuhi. Karena dia tidak hanya menghadiri pertemuan—dia membuat suatu pencapaian.

Dia diperkirakan akan mendarat di Jakarta pada Senin pagi, 13 Oktober, pukul 10.00 WIB. Dan ketika dia melakukannya, dia tidak akan kembali sebagai seorang musafir. Dia akan kembali sebagai pembawa pesan—membawa gaung percakapan global, dan tanggung jawab untuk menjaga percakapan tersebut tetap hidup di dalam negeri.

Perjalanan Wilson mengingatkan kita bahwa diplomasi bukan hanya untuk politisi. Ini untuk siapa saja yang memiliki keberanian untuk berbicara, kerendahan hati untuk mendengarkan, dan keyakinan untuk bertindak. Dari Jakarta hingga New York dan kembali lagi, ia menunjukkan bahwa satu suara—jika didasarkan pada kebenaran—dapat bergema di seluruh penjuru dunia.

Dan mungkin itu adalah kisah yang paling kuat dari semuanya. (Tn..mc’Ro))

 

Berita Terkait

Sekjend DAN-RI Sultan Malik Samudera Pasai Aceh dan Prof. Purnomo Yusgiantoro Bahas Akselerasi PSN PT Korina Refinery Aceh, Proyek Raksasa Energi USD 16 Miliar Dolar
DK PBB Adopsi Morocco Autonomy Plan, Wilson Lalengke: Jalan bagi Perdamaian dan Pemulangan Pengungsi Kamp Tinduof
Pidato Wilson Lalengke, Momentum Meningkatkan Peran PBB Atas Krisis Kemanusiaan Global
Raja Maroko Sampaikan Pidato kepada Rakyatnya, Ini Teks Lengkapnya
Akal akalan Proyek Drainase di Bandar Surabaya Berpotensi ada Penyimpangan APBD
Tidak Hanya Indonesia, Suara Wilson Mewakili Masyarakat Dunia
Seruan Keadilan dari Nusantara: Ketua Umum PDKN Apresiasi Pidato Wilson Lalengke di PBB
Ketua Konferensi Ke-80 Komite Keempat PBB Berikan Komentar atas Pidato Wilson Lalengke
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 7 November 2025 - 05:42 WIB

Sekjend DAN-RI Sultan Malik Samudera Pasai Aceh dan Prof. Purnomo Yusgiantoro Bahas Akselerasi PSN PT Korina Refinery Aceh, Proyek Raksasa Energi USD 16 Miliar Dolar

Minggu, 2 November 2025 - 23:35 WIB

DK PBB Adopsi Morocco Autonomy Plan, Wilson Lalengke: Jalan bagi Perdamaian dan Pemulangan Pengungsi Kamp Tinduof

Minggu, 2 November 2025 - 01:31 WIB

Pidato Wilson Lalengke, Momentum Meningkatkan Peran PBB Atas Krisis Kemanusiaan Global

Sabtu, 1 November 2025 - 20:55 WIB

Raja Maroko Sampaikan Pidato kepada Rakyatnya, Ini Teks Lengkapnya

Jumat, 24 Oktober 2025 - 08:34 WIB

Akal akalan Proyek Drainase di Bandar Surabaya Berpotensi ada Penyimpangan APBD

Berita Terbaru