*Krisis Transportasi Kota Malang, Angkutan Konvensional Terhimpit Teknologi Digital*

Minggu, 29 Desember 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

*Krisis Transportasi Kota Malang, Angkutan Konvensional Terhimpit Teknologi Digital*

_Oleh: Sherly Puspita Berlian_

Malang, Jawa Timur – Kota Malang menghadapi perubahan besar di sektor transportasi sejak kehadiran layanan transportasi online pada 2015. Kehadiran platform seperti Gojek, Grab, dan Uber mengubah pola mobilitas masyarakat. Teknologi ini menawarkan kemudahan, fleksibilitas, dan efisiensi yang mengancam keberlanjutan angkutan kota (angkot) konvensional.

*Persaingan Ketat Menggerus Angkot*

Paguyuban sopir angkot di Terminal Landungsari, yang sebelumnya menjadi simbol solidaritas dan ketertiban transportasi umum, kini menghadapi tantangan besar. Pendapatan harian sopir angkot, yang rata-rata berkisar Rp100.000 hingga Rp200.000, menurun drastis hingga 60% akibat migrasi penumpang ke layanan transportasi online. Penurunan ini memengaruhi kemampuan sopir untuk bertahan, termasuk untuk membayar biaya operasional dan kebutuhan keluarga.

Kondisi ini semakin diperparah oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), minimnya perlindungan sosial, dan ketergantungan pada cuaca. “Saat hujan atau malam hari, penumpang sangat sepi,” keluh seorang sopir.

*Dinamika Sosial dan Ekonomi*

Transformasi ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memunculkan konflik sosial. Sopir angkot kerap terlibat bentrokan dengan mitra transportasi online, yang dianggap merebut pangsa pasar mereka. Teori konflik Karl Marx mengidentifikasi ketimpangan distribusi sumber daya sebagai pemicu utama. Transportasi online didukung modal besar, sementara angkot terjebak dalam keterbatasan tradisional.

*Solusi untuk Keseimbangan*

Untuk meredam konflik dan meningkatkan daya saing angkot, para ahli menyarankan modernisasi armada, pelatihan teknologi bagi sopir, dan integrasi layanan ke dalam aplikasi berbasis digital. Selain itu, pemerintah diharapkan menetapkan zonasi dan tarif yang adil untuk memastikan keberlanjutan angkot sebagai bagian penting dari transportasi perkotaan.

Teknologi digital memang tidak terhindarkan, tetapi kesejahteraan komunitas tradisional seperti paguyuban sopir angkot harus tetap diperhatikan. Kolaborasi antara transportasi online dan konvensional menjadi kunci keberlanjutan sistem transportasi yang inklusif di Kota Malang. (*)

_Penulis adalah Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang_

Berita Terkait

Tujuh Mata Lomba Ikut Memeriahkan HUT PGRI di Kecamatan Cipaku Ciamis
Bau Tak Sedap Dana BOS..! 13 SDN di Kecamatan Depok Berpotensi Bakal Berhadapan dengan Persoalan Hukum
Daftar Sekolah SMA/ SMK Negeri Swasta di Kabupaten Kuningan
SMA-SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Majalengka
Madrasah Aliyah Negeri 2  Kota Cirebon Hari ini lagi diperiksa BPKP
Buka Bimtek Penguatan Peran PPID Sekolah Se-Cadisdik Wilayah IV, Kadisdik Dorong Perkuat Ekosistem dan Komunikasi Publik
Kekurangan Tenaga Pengajar, Siswa Kelas 3 dan 6 SDN 2 Rancahan Belajar Satu Ruangan
Kapolres Hadiri Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Tegaskan Komitmen Polisi Peduli Pendidikan
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Tujuh Mata Lomba Ikut Memeriahkan HUT PGRI di Kecamatan Cipaku Ciamis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Bau Tak Sedap Dana BOS..! 13 SDN di Kecamatan Depok Berpotensi Bakal Berhadapan dengan Persoalan Hukum

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:09 WIB

Daftar Sekolah SMA/ SMK Negeri Swasta di Kabupaten Kuningan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:02 WIB

SMA-SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Majalengka

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Madrasah Aliyah Negeri 2  Kota Cirebon Hari ini lagi diperiksa BPKP

Berita Terbaru