KUNINGAN, Patrolinews86.com ( 8/9/2026) – Polemik pembongkaran Tugu Bola Dunia di persimpangan Jalan Ir. Soekarno, Kabupaten Kuningan, terus menggelinding bak bola salju.
Setelah aksi nekat seorang warga bernama Atang yang mengamuk sebagai bentuk protes terhadap proyek pembangunan tugu pengganti yang viral di media sosial, gelombang dukungan kini mulai mengalir dari berbagai elemen masyarakat.
Salah satu dukungan kuat datang dari tokoh pemuda sekaligus aktivis kemasyarakatan Kuningan Manap Suharnap, Ia secara terbuka menyatakan berdiri di belakang Atang yang dinilainya telah mewakili jeritan hati masyarakat Kuningan yang peduli terhadap nilai historis daerah.
“Apa yang dilakukan Saudara Atang di lokasi proyek itu bukan sekadar aksi spontan, melainkan bentuk puncak kekecewaan rakyat terhadap kebijakan Dinas PUTR dan Pemkab Kuningan yang dinilai abai terhadap sejarah,” tegas Manap Suharnap saat dihubungi Patrolinews86.com via selulernya Selasa (8/9/2026).
Manap menambahkan, Tugu Bola Dunia yang dibangun pada masa pemerintahan bupati terdahulu memiliki filosofi mendalam mengenai kiprah Kuningan di kancah internasional, salah satunya merujuk pada peristiwa bersejarah Perundingan Linggarjati.
Pembongkaran sepihak demi menggantinya dengan Tugu Patung Kuda dianggap sebagai langkah mundur yang memutus rekam jejak pembangunan daerah. “Saya mendukung penuh sikap kritis Kang Atang” ujarnya.
Pemkab Kuningan, khususnya DPUTR, seharusnya menggunakan otak dan mengajak musyawarah para budayawan, sejarawan, serta ahli waris sebelum mengeksekusi fasilitas publik bernilai sejarah tinggi seperti itu,” ketus Manap, menirukan kritikan pedas yang sebelumnya dilontarkan Atang di lokasi kejadian.
Selain masalah nilai sejarah, Manap Suharnap juga menyoroti transparansi penggunaan anggaran proyek penataan koridor jalan tersebut yang kabarnya menyedot dana APBD hingga nyaris Rp200 juta.
Menurutnya, kebijakan ini sangat mencederai rasa keadilan masyarakat di tengah banyaknya fasilitas umum dan infrastruktur jalan di pelosok Kuningan yang masih dibiarkan rusak.
Di sisi lain, Kepala Dinas PUTR Kabupaten Kuningan, Putu Bagiasna, sebelumnya sempat berdalih bahwa pembongkaran dan penataan persimpangan tersebut dilakukan semata-mata untuk merehabilitasi kawasan yang kurang terawat sekaligus memperkuat identitas Kuningan sebagai Kota Kuda.
Namun bagi Manap Suharnap, alasan estetika tersebut terlalu dipaksakan. Bersama sejumlah aliansi masyarakat, ia mendesak pemerintah daerah segera menghentikan proyek dan duduk bersama warga guna mencari solusi terbaik tanpa harus melenyapkan simbol sejarah yang sudah melekat di hati masyarakat Kuningan.
HERDI RERE
























