Ilustrasi baja ringan
Bandung patrolinews86.com – Kehati hatian dan ketelitian bagi para penerima bantuan revitalisasi haruslah mengacu kepada juklak dan juknis yang sudah ditentukan oleh pihak pemerintah terutama tentang juklak dan juknis tentang Rencana anggaran biaya ( RAB ) ataupun gambar dalam pelaksanaan repitalisasi .jangan sampai kepala sekolah terjebak oleh juklak dan juknis yang dibikin oleh konsultan disaat pengadaan harga yang melambung tinggi dan pengadaan barang yang diluar dari kualitas dan kuantitas SNI.
Karena akibatnya sekolah itu sendiri nanti nya akan terjebak dalam lingkaran dugaan korupsi yang direncanakan .
Salah satu contoh kehati hatian dan harus sesuai dengan aturan yang ada adalah adanya pengadaan penggunaan material baja ringan non-SNI atau berkualitas rendah (KW) dalam proyek revitalisasi sekolah merupakan pelanggaran berat yang dapat mengancam keselamatan siswa dan merugikan keuangan negara.” Demikian dikata Adhi dan Dhian setiawan dari salah satu aktivis anak bangsa saat bertemu patroli di bandung belum lama ini ketika di sekolah ditemukan adanya beberapa kwalitas baja ringan yang diduga KW .
Dugaan penyelewengan ini marak disorot oleh masyarakat, aktivis, dan media di berbagai daerah karena tidak sesuai dengan standar teknis yang diwajibkan oleh pemerintah.
- Pelanggaran Regulasi: Menurut aturan konstruksi, setiap material baja ringan untuk atap bangunan fasilitas publik wajib memiliki sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Penggunaan material palsu melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.
- Risiko Keselamatan: Baja ringan berkualitas rendah umumnya memiliki ketebalan di bawah spesifikasi (banci) dan tingkat kekuatan karat yang buruk. Modus ini berisiko tinggi menyebabkan atap bangunan sekolah ambruk dan mencederai siswa saat kegiatan belajar mengajar.
- Indikasi Korupsi: Selisih harga antara anggaran material asli dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan material murah di lapangan menjadi celah bagi oknum untuk meraup keuntungan pribadi yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi.
- Material Campuran: Mencampur baja ringan bermerek resmi dengan baja polos tanpa logo SNI untuk mengelabui pengawas.
- Pengurangan Spesifikasi: Menggunakan ketebalan baja yang lebih tipis atau mengurangi jumlah baut konektor konstruksi.
- Pengondisian Pihak Ketiga: Mengalihkan proyek yang seharusnya dikerjakan secara swakelola (melibatkan komite/masyarakat sekolah) kepada kontraktor tidak resmi demi mendapatkan komisi sepihak.
Bukan Sekadar Label, Ini Alasan Kenapa Harus Pilih Baja Ringan SNI
Masifnya penggunaan baja ringan untuk konstruksi bangunan, membuat material ini hadir di pasaran dengan beragam kualitas, baik yang sudah terjamin atau pun belum.
Itulah kenapa, sebagai pembeli, penting untuk memilih produk baja ringan yang kualitasnya telah terjamin. Salah satunya dibuktikan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Apa Itu SNI?
Dikutip dari laman BSN, SNI adalah dokumen standar teknis yang disusun oleh perwakilan produsen, konsumen, regulator, akademisi, praktisi, hingga asosiasi. Diwadahi dalam suatu Komite Teknis, standar ini dapat digunakan untuk menilai dan menguji suatu produk yang dimiliki pelaku usaha atau pemilik merek dagang.
Di Indonesia, SNI menjadi satu-satunya instrumen yang memiliki kekuatan hukum. Sifatnya juga mengikat dan berlaku secara nasional di wilayah hukum Republik Indonesia, terutama untuk produk yang diperdagangkan di tanah air.
Keberadaan SNI menguntungkan, baik bagi produsen, konsumen, maupun pemerintah. SNI dapat mendorong produsen terus melakukan inovasi, sehingga produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar secara kompetitif.
Bagi konsumen, SNI akan membantu mereka terbebas dari produk yang membahayakan keselamatan, kesehatan, dan lingkungan. Sementara untuk pemerintah, SNI akan membuat pasar dalam negeri memiliki mekanisme perlindungan dari serbuan produk impor yang kualitasnya tak diketahui.
Peran SNI pada Produk Baja Ringan
Keberadaan baja ringan SNI jadi angin segar bagi masyarakat, di tengah menjamurnya produk abal-abal di pasaran.
Sebagaimana produk lainnya, standardisasi untuk baja ringan penting dalam perdagangan global. Sebab, hal itu akan menjembatani konsumen dan pelaku usaha/produsen agar keduanya tidak dirugikan. Di mana produsen akan mendapat kepercayaan konsumen karena produknya berkualitas, dan konsumen dapat terlindung dari pembelian baja ringan abal-abal.
SNI juga akan melindungi produk lokal agar mampu bersaing dari serbuan baja ringan impor di era perdagangan bebas seperti saat ini.
Adapun produk baja ringan berkualitas biasanya sudah berlabel SNI, Pada dasarnya, SNI pada baja ringan sangat penting karena akan mencegah pengguna material ini tertipu dari produk dengan kualitas tidak jelas.
Namun memang tidak bisa dipungkiri, baja ringan abal-abal masih saja lolos di pasaran dan berbaur dengan material yang telah ber-SNI.
Selain perlu tindakan tegas dari pemerintah, pembeli juga harus lebih selektif dalam memilih baja ringan, karena SNI telah dipercaya untuk memenuhi kebutuhan konstruksi selama lebih dari 30 tahun.***
























