Indramayu – Patrolinews86.com
Nasib memilukan menimpa delapan pekerja asal Kabupaten Indramayu di wilayah Papua.
Dalam video yang viral, pekerja kuli bangunan itu kini telantar di empat wilayah tempat berbeda di Provinsi Papua.
Mereka berada dalam kondisi kritis, tanpa uang untuk ongkos pulang, dan terancam kelaparan karena persediaan bekal semakin menipis.
Ketua Gerakan Rakyat Indramayu (GRI), Muhamad Solihin mengaku prihatin atas kabar tersbut.
Sebelum berangkat mereka dijanjikan manis bayaran besar karena ada jaminan lembur setiap hari. Dalam data yang terhimpun ke delapan pekerja antara lain, Catu Wijaya, Yogi Setiawan, Mulyadi, Jayadi (Warga Kecamatan Terisi).
Barak yang dibangun
“Nyatanya, boro-boro lembur, kerja harian saja dibayar tidak beres dengan cara dicicil. Kami yang diminta untuk mendampingi para korban, akan saya perjuangkan agar semua pekerja bisa pulang,” jelas Solihin.
Menurut Solihin, para pekerja yang berasal dari Kecamatan Cikedung, Terisi dan Kandanghaur saat sekarang dalam kondisi memperihatinkan. Semoga pemerintah daerah dan pihak yang terlibat terketuk hatinya dan bertanggung jawab,” jelas Solihin.
Dalam video yang viral, seorang pekerja bernama Catu Wijaya, warga Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi, Indramayu ini meminta agar Bupati Lucky Hakim, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Anggota DPR-RI dari dapilnya bisa menolong nasib para pekerja yang telantar.
Catu dengan suara merintih dan bergetar meminta bantuan kepada Bupati Indramayu Lucky serta KDM agar segera dipulangkan.
“Kami terlantar di Papua. Mau pulang tidak punya ongkos. Kami kesulitan di sini karena tidak punya uang,” tutur Catu dalam rekaman video.
Catu menjelaskan bahwa ia bersama tujuh rekannya kini berada di Kawasan Sermayam, Merauke, Papua Selatan.
Mereka awalnya berangkat dengan harapan bisa memperbaiki nasib melalui pekerjaan di proyek pembangunan barak Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Batalyon Infanteri Yonif TP 818/YUBOI.
Namun, kenyataan yang dihadapi jauh dari harapan, pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana dan mereka tidak memiliki biaya untuk kembali ke kampung halaman.
Melalui pesan yang disampaikan, para pekerja berharap pemerintah daerah segera turun tangan. Mereka meminta agar ada koordinasi antara pemerintah Kabupaten Indramayu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan pihak terkait di Papua untuk memfasilitasi kepulangan mereka.
“Kami ingin segera pulang. Tidak punya ongkos. Tolong kami,” tutur Catu dalam video yang dikirimkan ke kerabatnya di Indramayu.
Catu dan teman-temannya mengaku ingin segera pulang. Karena, dari jumlah 18 orang yang berangkat bekerja, 8 orang diantaranya sudah pulang ke kampung halamannya dengan biaya sendiri dikirim dari keluarganya di Indramayu.
“Makin lama tinggal di Papua, makin tidak ada harapan karena uang benar-benar habis,” jelas Catu dalam video yang beredar sejak, Senin (6/4/2026).
Mereka mengaku makan seadanya. Catu dan pekerja lainnya, terancam kelaparan jika tidak segera diselamatkan.
Kasus ini menjadi sorotan karena memperlihatkan lemahnya sistem perlindungan bagi pekerja migran domestik yang berangkat tanpa kepastian kontrak kerja. Situasi ini juga menegaskan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap perekrutan tenaga kerja di daerah-daerah terpencil.
“Ke depan dinas terkait harus hadir dengan kondisi seperti ini. Ini juga sekaligus agar pihak terkait agar peduli dengan nasib 8 pekerja yang telantar di Papua,” tegas Solihin. (Agus Sulist/Cho)

























