Menjaga Jejak Leluhur: Tradisi Sadranan 15 Ruwah di Makam Dukuh Getasari, Petet, Desa Gladagsari, Boyolali.

Rabu, 4 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Boyolali – Patrolinews86.com.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat Dukuh Getasari, Petet, Desa Gladagsari, Kabupaten Boyolali, tetap teguh menjaga salah satu warisan budaya leluhur yang sarat makna, yakni Tradisi Sadranan 15 Ruwah. Tradisi ini tidak sekadar ritual tahunan, melainkan cerminan jati diri masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi nilai spiritual, kebersamaan, dan penghormatan kepada para pendahulu. Rabu( 08/02/2026 )

Sadranan yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Ruwah bulan dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan bulan Syaban dalam kalender Hijriah, berlangsung di Makam Dukuh Getasari, tempat peristirahatan para leluhur yang diyakini sebagai cikal bakal terbentuknya dukuh tersebut. Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai lapisan usia telah berdatangan, membawa perlengkapan doa,nasi tumpeng, dan aneka jajanan/sajian tradisional sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.

Tradisi Sadranan merupakan bentuk nyata dari nilai eling lan waspada, mengingatkan manusia akan asal-usulnya dan hakikat kehidupan yang sementara. Melalui doa bersama, tahlil, yang beragama Islam dan Doa denga tata cara agama yang Lain, seperti Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Aliran Kepercayaan, masyarakat secara keseluruhan mendoakan para leluhur agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Namun lebih dari itu, Sadranan menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, menumbuhkan rasa gotong royong, serta memperkuat ikatan sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Keunikan Sadranan di Dukuh Getasari terletak pada konsistensi pelaksanaannya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini tidak pernah terputus, meskipun zaman terus berubah. Para sesepuh dukuh berperan penting sebagai penjaga nilai dan penutur sejarah, menyampaikan kisah-kisah leluhur kepada generasi berikutnya agar tidak tergerus oleh waktu. Dari merekalah, generasi muda belajar tentang makna kebersamaan, rasa hormat, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan spiritual.

Menurut Tokoh Masyarakat Mbah Juremi menuturkan,
Di era digital seperti sekarang, tantangan terbesar adalah bagaimana tradisi ini tetap hidup dan relevan bagi generasi muda. Kehadiran para pemuda dan pemudi Dukuh Getasari dalam pelaksanaan Sadranan menjadi harapan besar akan keberlanjutan tradisi ini. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga mulai terlibat aktif dalam persiapan, dokumentasi, hingga publikasi kegiatan, sebagai upaya adaptasi tanpa meninggalkan esensi budaya.
Tradisi Sadranan 15 Ruwah bukan sekadar agenda budaya, melainkan warisan nilai yang harus dijaga bersama. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan dengan masa lalu, dan modernitas dapat berjalan beriringan dengan kearifan lokal. Melalui Sadranan, masyarakat Dukuh Getasari menegaskan identitasnya: sebuah komunitas yang berakar kuat pada nilai luhur, namun tetap terbuka menatap masa depan.tuturnya.

Dengan terus melibatkan generasi muda, Tradisi Sadranan di Makam Dukuh Getasari Patet diharapkan tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup sebagai pedoman dan inspirasi. Sebab di sanalah, jejak leluhur dirawat, doa-doa dipanjatkan, dan nilai kebersamaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya—menjadi cahaya penuntun bagi masa depan yang berakar pada budaya dan kearifan lokal. Pungkas Mbah Juremi.
( Samira )

Berita Terkait

Pencurian Padi Terjadi Di Desa Cempeh Kecamatan Lelea Indramayu Yang Siap Panen Seluas 7.000 Meter Persegi
Bupati Bandung Ingatkan Aparatur Harus Menunjukkan Integritas, Profesional, dan Jaga Kepercayaan Publik
U.Kusmana,  Sekda Kuningan Ajak Guru Kuasai Teknologi Tanpa Tinggalkan
Bupati Indramayu Lucky Hakim Pelayanan Publik Berjalan Seperti Biasa Insya Allah Aman & lancar Pasca Wabup Diamankan Kejati
Kemenkes Targetkan Renovasi 10 Rebu Puskesmas Rampung 2029-2030
Camat Darangdan Pimpin Apel Pagi, Tekankan Disiplin dan Peningkatan Pelayanan
Revitalisasi Sekolah di Cirebon Banyak Masalah hingga dugaan pemotongan 20% , ARM Desak APH Usut Tuntas
Rawan Korupsi Bupati Kuningan diharap Stop Dapur MBG, Masyarakat Demonstrasi Akbar Di Pendopo hari ini
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Pencurian Padi Terjadi Di Desa Cempeh Kecamatan Lelea Indramayu Yang Siap Panen Seluas 7.000 Meter Persegi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Bupati Bandung Ingatkan Aparatur Harus Menunjukkan Integritas, Profesional, dan Jaga Kepercayaan Publik

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:01 WIB

U.Kusmana,  Sekda Kuningan Ajak Guru Kuasai Teknologi Tanpa Tinggalkan

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:39 WIB

Bupati Indramayu Lucky Hakim Pelayanan Publik Berjalan Seperti Biasa Insya Allah Aman & lancar Pasca Wabup Diamankan Kejati

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:35 WIB

Kemenkes Targetkan Renovasi 10 Rebu Puskesmas Rampung 2029-2030

Berita Terbaru