Lirikan Tergesa Dan Kursi Pejabat.
Oleh : Maria Bulan Purnamasari Pau.
Lirikan sedikit, tolong, tergesa-gesa berjalan antukan demi antukan.
Seribu janji dengan riuh, suara menggema mengucap tak terkira.
Tak disangka, semua itu hanya di dalam angin semata.
Kata-kata yang seharusnya menjadi peneguh justru berubah menjadi kosong, hilang tanpa bekas, dan hanya meninggalkan gema.
Pertanyaan sederhana pun muncul bisakah mereka berhenti sejenak dan berpaling?
Bisakah mereka melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik janji-janji yang berhamburan itu?
Kenyataannya, seluruhnya hancur, tak ada satu pun yang tersisa.
Rakyat dibiarkan terpisah, tercerai-berai, dan menanggung sendiri akibat dari keputusan-keputusan yang dibuat di kursi kekuasaan.
Permainan ini, kalau boleh jujur, memang dimulai dari mereka sendiri.
Dari mereka yang berdiri dengan setelan rapi, dengan wajah penuh percaya diri, dan dengan kalimat manis yang menipu telinga.
Mereka adalah tikus-tikus berdasi, yang enggan menerima kritikan dan justru lebih suka tenggelam dalam tepuk tangan serta pujian semu.
Kritik dianggap gangguan, padahal kritik adalah tanda cinta rakyat kepada negeri ini.
Mereka lupa bahwa kursi yang mereka duduki bukan milik pribadi, melainkan titipan.
Dan jangan pernah lupa, kursi itu bisa berbicara.
Ia berbicara lewat suara rakyat, lewat keluhan yang terdengar lirih, lewat jeritan yang tak tersampaikan di ruang-ruang rapat megah, bahkan lewat tangisan diam seorang ibu di sudut pasar.
Dengarkanlah sedikit kritikan rakyatmu, wahai pejabat.
Bukankah kursi itu bukan hanya sekadar kayu dengan sandaran kecil, melainkan simbol dari kepercayaan besar?
Di balik kursi itu ada ribuan harapan yang sederhana harga beras yang terjangkau, sekolah yang tidak bocor, jalanan yang bisa dilalui tanpa harus tersandung lubang, dan layanan kesehatan yang tidak harus menukar harta terakhir keluarga.
Rakyat tidak menuntut istana, rakyat tidak menuntut kemewahan.
Mereka hanya meminta kehidupan yang layak, sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.
Namun, apa yang terjadi hari ini?
Kita menyaksikan begitu banyak janji yang terucap namun sedikit sekali yang diwujudkan.
Rakyat dijadikan sekadar angka dalam laporan, sekadar data dalam grafik, sekadar nama di daftar pemilih.
Ketika sudah selesai pesta demokrasi, suara rakyat yang riuh mendukung tiba-tiba hilang tak terdengar lagi.
Yang tersisa hanyalah kursi empuk, fasilitas mewah, dan gaya hidup penuh prestise yang jauh dari keseharian rakyat kecil.
Inilah wajah nyata politik kita hari ini: janji yang diucapkan di jalanan berubah menjadi lupa begitu kaki melangkah ke gedung megah.
Kritikan rakyat bukanlah cemoohan.
Kritikan adalah cermin.
Ia menunjukkan wajah asli, meski kadang pahit dan tidak menyenangkan.
Sayangnya, banyak pejabat lebih suka memecahkan cermin daripada memperbaiki wajah.
Mereka lebih sibuk membungkam kritik daripada mendengarnya.
Padahal, bukankah kritik justru yang membuat mereka tetap berada di jalur?
Tanpa kritik, pejabat hanya akan hanyut dalam pujian semu dan akhirnya kehilangan arah.
Mari kita lihat ke kehidupan sehari-hari rakyat kecil.
Seorang petani harus rela bekerja sejak subuh hingga senja, namun hasil panennya tidak sebanding dengan keringat yang jatuh.
Sementara itu, pejabat dengan mudah berbicara tentang “kesejahteraan petani” di forum internasional.
Ironis, karena di tanah air sendiri, petani terus merugi akibat harga pupuk yang melambung.
























