Setelah program orang tua asuh berjalan, dia bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Abdurahman Bin Auf. “Selanjutnya, tahun 2020 kami mendapat izin mendirikan pondok pesantren. Saya bersama Pak Wawan menjadi salah satu pendirinya,” katanya.
Setiap enam bulan sekali, pihaknya memperbarui pengajuan donasi. Dalam setiap pengajuan tersebut, puluhan anak berhasil lolos verifikasi dari pihak UEA perwakilan Indonesia dan berhak menerima santunan.
Di sisi lain, pondok pesantren tersebut juga berjalan berkat partisipasi dan donasi dari masyarakat, keluarga maupun dari para pengajar pesantren sendiri. “Kemarin kami baru dapat bantuan beras 500 kilogram dari Eromoko,” ujarnya.
Tahun 2021, pihaknya mendapatkan izin mendirikan MTs Raden Mas Said Wonogiri. Para murid dan santri tidak hanya dari warga sekitar. Namun ada yang dari Pekalongan, Madura, bahkan Cianjur.
Meskipun masih aktif menjadi polisi, Surono harus bisa membagi waktunya. Dia bersama para pengurus yayasan beserta 13 pengajar pesantren dan MTs mampu menjalankan kegiatan dakwah, belajar dan mengajar.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
























