Semarang patrolinews86.com
BAGAIMANA OBESITAS ABDOMINAL DAPAT MENINGKATKAN RISIKO HIPERTENSI?
Ditulis oleh :
Nikmatul Luailiya (2007026081), Niswatun Khasanah (2007026082), Novita Fatmawati (2007026083), Nur Kiki Patmawati (2007026084)
Mahasiswa Prodi Gizi UIN Walisongo Semarang
Obesitas merupakan kondisi akumulasi lemak abnormal (berlebihan) di dalam adiposa tubuh. Obesitas sering menjangkiti wanita dibandingkan pria didapat dari informasi penelitian yang dilakukan pada 400 peserta yang dipilih secara acak (221 wanita, 179 pria) menunjukkan hasil prevalensi obesitas sebesar 33.8% (pria = 8.9%, wanita 53.8%). Obesitas menempati peringkat pertama sebagai masalah kesehatan serius di seluruh dunia karena implikasi nya pada beberapa penyakit lain seperti diabetes, serangan jantung, stroke, serta hipertensi.
Obesitas dapat diketahui melalui beberapa skala dalam pemeriksaan antropometri diantaranya Indeks Massa Tubuh yaitu rasio antara berat badan (kg) dan kuadrat tinggi badan (meter). Lingkar pinggang, lingkar panggul, dan persentase lemak tubuh juga digunakan untuk menggambarkan adanya obesitas khususnya obesitas abdominal. Lingkar Pinggang merupakan implikasi terkuat distribusi lemak perut (lemak visceral) ini dianggap metode paling akurat untuk menggambarkan adanya hipertensi. Angka yang melebihi standar setelah dilakukan pengukuran dan pengolahan data, dapat menunjukkan apakah suau individu terjangkit obesitas.
Titik batas untuk memprediksi hipertensi dengan IMT adalah 29.9 kg/m2, persentase lemak tubuh 35,15% dan lingkar pinggang 88,5 cm. Namun, pada populasi yang lebih muda (40 hingga 59 tahun) nilai batas BMI dan lingkar pinggang yang optimal adalah 29,57 kg/m2 dan 90,5 cm karena usia juga merupakan faktor risiko hipertensi dengan titik batas IMT untuk individu lanjut usia lebih rendah.
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang umum menjangkiti kelompok lanjut usia, yang sering dikaitkan dengan risiko CVD, stroke, serta penyakit ginjal kronis. Hipertensi menjadi salah satu masalah kesehatan global. Hipertensi juga membawa perubahan fisiologis khususnya pada lansia seperti kekakuan arteri, peningkatan tekanan nadi, perubahan kadar renin dan aldosteron, penurunan eksresi garam ginjal, penurunan fungsi ginjal, perubahan sensitivitas dan fungsi sistem saraf otonom, serta perubahan fungsi endotel. Sama halnya dengan obesitas, hipertensi cenderung terjadi pada perempuan terutama mereka yang terindikasi obesitas pada usia 49 tahun keatas (lansia, wanita dalam keadaan menopause) dengan lingkar pinggang dan lingkar pinggul yang melebihi ambang batas normal.
Wanita menopause mengalami perubahan profil pada hormon mereka salah satunya dengan rendahnya hormon estradiol (salah satu hormon penyusun estrogen) dan meningkatnya testosterone. Penurunan ini semakin diperparah jika individu mengalami obesitas. Peningkatan testosterone dan penurunan estradiol dikaitkan dengan redistribusi lemak tubuh dengan peningkatan adipositas sentral dari akumulasi jaringan adipose visceral terlepas dari usia, etnis, aktivitas fisik, dan total lemak tubuh. Sebagai sumber preferensial adipokin proinflamasi, jaringan adiposa visceral yang berlebihan mendorong peningkatan hipertensi. Yang perlu digarisbawahi adalah akumulasi jaringan adiposa visceral perimenopause ini bertepatan dengan hilangnya massa tanpa lemak, yang berakibat pada sedikit atau tidak ada kenaikan berat badan.
Sinyal ini ditangkap sebagai indikator obesitas abdominal daripada obesitas umum.Keterkaitan antara obesitas abdominal dengan naiknya prevalensi hipertensi tidak hanya melewati satu mekanisme. Jaringan adiposa dipertimbangkan sebagai penyebab utama dari beberapa kondisi cardiometabolik, khususnya dikaitkan dengan resistensi insulin, seperti diabetes dan sindrom metabolik. Lemak visceral memainkan peran yang merusak, sedangkan lemak subkutan berperan melindungi tubuh dari sindrom metabolik. Resisten insulin menjadi satu dari mekanisme penyebab hipertensi di sindrom metabolik.
Lebih lanjut, aktivitas berlebihan dari renin-angiotensi-aldosterone sistem pada individu dengan obesitas juga mendukung adanya hipertensi.
Mekanisme lainnya adalah dengan adanya adipokin, seperti adiponeksin, leptin dan resistin, dapat menyebabkan kekakuan arteri dan menyebabkan individu untuk disfungsi endote dan hipertensi. perubahan aktivitas asam urat dan inkretin atau dipeptidil peptidase resistensi insulin, perubahan adipokin, fungsi saraf simpatis yang menyimpang dan aktivasi enzim reninangiotensin-aldosteron, kelainan struktural dan fungsional pada ginjal, perubahan jantung dan pembuluh darah serta maladaptasi imun. Timbunan lemak di sekitar perut yang melebihi batas normal (obesitas abdominal) terutama pada laki-laki, jauh lebih berbahaya daripada timbunan lemak di bagian tubuh lain karena lemak yang terletak pada perut merupakan lemak aktif secara metabolik.
Sementara, lemak yang terletak pada bagian tubuh lain mungkin tidak aktif.
60% dari individu dengan obesitas memiliki gangguan hipertensi. Kaitan antara obesitas abdominal dengan naiknya risiko hipertensi dibuktikan dengan beberapa penelitian salah satunya pada Chang Gung Memorial Hospital antara Februari sampai Agustus 2014 silam. Dari 396 peserta yang mendaftar, 200 orang didalamnya mengalami hipertensi yakni tekanan darah sistolik ≧140mm Hg atau tekanan darah diastolic ≧90mm Hg, dengan prevalensi 50,5% dan usia rata-ratanya adalah 64,44 tahun. Orang dengan hipertensi memiliki tingkat IMT, lingkar pinggang, persentase lemak tubuh, gula puasa, trigliserida, asam urat dan kreatinin yang lebih tinggi dengan signifikansi statis. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa IMT, persentase lemak tubuh dan lingkar pinggang memiliki korelasi positif dengan hipertensi dengan signifikansi statistik.
DAFTAR PUSTAKA
Islam, Mohammad Redwanul, Md Moinuddin, Samaha Masroor Saqib, Syed Moshfiqur Rahman. (2021). Relationship of Anthropometric Indicators of General and Abdominal Obesity with Hypertension and Their Predictive Performance among Albanians : A Nationwide Cross-Sectional Study. Nutrients 2021,13,3373.
Lin Y-A, Chen Y-J, Tsao Y-C, et al. Relationship between obesity indices and hypertension among middle aged and elderly populations in Taiwan: a community-based, cross-sectional study. BMJ Open 2019 ; 9 : e031660. doi:10.1136/ bmjopen-2019-031660
O, Isaac. Amole Akintayo D. OlaOlorun Louis O. Odeigah Stephen A. Adesina. (2011). The prevalence of abdominal obesity and hypertension amongst adults in Ogbomoso, Nigeria. OpenJournals Nigeri
Rhee EJ, Cho JH, Kwon H, Park SE, Jung JH, Han KD, Park YG, Park HS, Kim YH, Yoo SJ, Lee WY; Taskforce Team of the Obesity Fact Sheet of the Korean Society for the Study of Obesity. Association between abdominal obesity and increased risk for the development of hypertension regardless of physical activity: A nationwide population-based study. J Clin Hypertens (Greenwich). 2018 Oct;20(10).
Disusun oleh
*Mahasiswa Prodi Gizi UIN Walisongo*
























