Oleh : Gregorius Cristison Bertholomeus, S.H.,M.H
Malam ini, 2 November 2026, Maumere tidak seramai biasanya.
Di setiap kuburan, lilin menyala.
Di setiap rumah, ada kursi kosong yang terasa paling penuh.
Hari ini bukan hari libur, hari ini Hari Arwah, hari di mana kita orang Katolik berhenti sejenak dari sibuknya kerja dan kuliah, untuk mengingat bahwa kita ada karena ada yang sudah tiada.
Saya kehilangan.
Kita semua pernah kehilangan.
Kehilangan Mama yang dulu masak nasi jagung, kehilangan Bapa yang dulu ajar cara bekerja keras, kehilangan Kakak, Adik, Anak, dan Sahabat yang perginya terlalu cepat.
Rasanya seperti ada bagian dari diri kita yang ikut dikubur hari itu.
Dan setiap 2 November, luka itu dibuka lagi, bukan untuk disakiti, tapi untuk didoakan.
Hari Arwah mengajarkan kita satu hal penting, bahwa arwah bukanlah orang hilang, mereka adalah akar.
Kita yang hidup ini hanyalah batang dan daunnya.
Tanpa akar yang sudah masuk ke dalam tanah, tidak akan ada kami yang berdiri hari ini.
Darah mereka mengalir di darah kami.
Itulah mengapa malam ini kita menyalakan lilin kecil di atas kubur dan menabur bunga.
Bukan karena mereka butuh cahaya, tetapi karena kita butuh tanda bahwa cinta itu masih hidup.
Di tengah angin Maumere yang kencang, lilin itu mungkin goyang dan hampir padam, tetapi tetap menyala, sama seperti rindu kita.
Di zaman di mana anak muda sibuk mengejar ijazah, kerja, dan gengsi di kota, Hari Arwah memukul kita pelan: “Kamu ingat dari mana kamu datang?”
Kita tidak lahir dari kosong.
Ada Mama yang menahan sakit, ada Bapa yang banting tulang di kebun, di kantor dan di laut, ada oma-opa yang menjaga kampung.
Kita ada karena tetesan keringat mereka.
Dalam iman kita, mati bukan putus, mati adalah pulang.
Kuburan bukan tempat menakutkan, tetapi tempat peristirahatan sementara sambil menunggu terang abadi Tuhan.
Maka hari ini kita ziarah bukan untuk meratap, tapi untuk menitip doa: “Tuhan, kasihanilah jiwa-jiwa mereka.”
Jika rindu punya suara, malam ini seluruh Flores akan berisik memanggil nama-nama yang sudah pergi.
Kenangan yang paling sedih ialah kenangan yang paling kita sayang: suara Mama panggil makan, tangan bapa yang kasar karena kerja, tawa mereka yang sekarang hanya bisa kita dengar dalam mimpi.
Kenangan itu tidak menyakiti, kenangan itu yang membuat kita tetap manusia.
> Orang yang kita cintai tidak pernah benar-benar pergi, selama kita masih menyebut nama mereka dalam doa.
> Kita menangis bukan karena mereka pergi, kita menangis karena kita begitu bersyukur pernah memilikinya.
> Kubur boleh tertutup tanah, tetapi kasih tidak pernah tertutup waktu.
Akhirnya, terima kasih.
Terima kasih untuk para Arwah.
Untuk moyang yang buka kebun pertama.
Untuk Mama dan Bapa yang melahirkan kami dengan susah payah.
Untuk semua jiwa-jiwa yang namanya tidak sempat kami kenal, tapi darahnya ada di tubuh kami.
Terima kasih sudah melahirkan kami.
Terima kasih sudah menjaga kami dari surga.
Tidurlah dengan damai.
Doa kami, lilin kami, dan air mata kami malam ini adalah tanda bahwa kalian tidak pernah dilupakan.
Beristirahatlah dalam damai.
Doa kami menyertaimu, hingga kita bertemu lagi di keabadian.
























