Oleh : Gregorius Cristison Bertholomeus, S.H.,M.H
Di zaman yang serba cepat dan penuh gangguan layar gawai ini, ada hal yang semakin jarang kita temui, yaitu : anak muda yang duduk tenang dengan sebuah buku, atau yang menuangkan pikirannya ke dalam tulisan.
Perpustakaan sekolah, perpustakaan kampus, bahkan yang disediakan pemerintah daerah lengkap koleksinya, nyaman tempatnya namun pengunjungnya sepi.
Padahal di sinilah pintu dunia terbuka.
Padahal dari sinilah pemikiran yang merdeka lahir.
Membaca bukan sekedar hobi pasif atau pelarian waktu luang, melainkan tindakan perlawanan terhadap kebodohan.
Menulis adalah cara kita menolak dilupakan sejarah dan melawan arus disinformasi.
Keduanya adalah fondasi utama peradaban yang kritis, tajam, dan merdeka dalam berpikir.
Membaca: Memahami Ajaran dan Dunia:
Dalam tradisi iman kita, membaca bukan sekadar kebiasaan akademik, melainkan kewajiban dan jalan menuju kebenaran.
Membaca Kitab Suci adalah cara Tuhan berbicara kepada kita.
Melalui bacaan, renungan, dan pendalaman Kitab Suci, kita memahami rencana keselamatan, belajar dari pengalaman umat Allah di masa lalu, dan menemukan arah hidup yang sejati.
Namun membaca tidak berhenti pada kitab-kitab suci saja.
Membaca buku-buku pengetahuan, sejarah, sosial, dan seni juga merupakan cara Tuhan membiaskan cahaya kebenaran-Nya melalui akal budi manusia.
Ketika kita jarang membaca, apalagi hanya puas dengan potongan informasi pendek dari media sosial, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk berpikir panjang, menyusun argumen yang runtut, dan membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan yang dibungkus opini.
Orang yang tidak terbiasa membaca mudah diombang-ambing berita bohong, mudah terprovokasi, dan mudah kehilangan arah karena tidak punya dasar pengetahuan yang kuat.
Menulis: Menata Pikiran dan Meninggalkan Jejak:
Jika membaca adalah cara kita menerima, maka menulis adalah cara kita memberi dan meninggalkan jejak.
Menulis bukan sekedar tugas sekolah atau laporan kuliah.
Menulis adalah proses merapikan pikiran, menata keyakinan, dan mempertanggungjawabkan apa yang kita yakini.
Ketika seseorang menulis, ia dipaksa berpikir jernih, mencari dasar yang kuat, dan memilih kata yang tepat.
Bagi kaum muda, menulis adalah senjata.
Di tengah arus informasi yang deras dan sering kali keliru, tulisan yang jernih dan jujur menjadi cahaya.
Menulis juga menjadi cara kita menyampaikan aspirasi, membela kebenaran, dan menyuarakan kepedulian terhadap sesama, sebagaimana ajaran Injil mengajak kita menjadi terang dan garam di tengah dunia.
Jika kita diam dan tidak menuliskan apa yang benar, maka yang salah akan terus terdengar paling lantang.
Masalah yang Kita Hadapi:
Namun kenyataannya memprihatinkan.
Saya perhatikan, dari pelajar hingga mahasiswa, minat membaca semakin menurun.
Perpustakaan lengkap dengan rak-rak buku yang berdebu, sementara anak-anak muda lebih asyik menatap layar, menggulir layar tanpa benar-benar meresapi isi.
Mereka datang ke perpustakaan bukan untuk membaca, melainkan sekedar mencari referensi cepat untuk tugas, lalu pergi begitu saja.
Budaya membaca karena ingin tahu, karena ingin mendalami, karena ingin tumbuh, semakin jarang.
Padahal tanpa membaca, kita tidak akan punya wawasan untuk ditulis.
Tanpa menulis, pengetahuan yang kita dapat hanya berhenti di kepala, tidak bermanfaat bagi orang lain.
Oleh karena itu hemat saya bahwa
membaca dan menulis itu seperti dua sayap: satu untuk terbang tinggi memandang dunia, satu lagi untuk meninggalkan jejak bagi yang datang sesudah kita.
Panggilan untuk Bangkit:
Kepada pelajar dan mahasiswa: jangan biarkan kemudahan zaman membuat kita malas berpikir.
Jangan biarkan informasi instan menggantikan kedalaman pengetahuan.
Mulailah dengan membaca Kitab Suci setiap hari, bukan sekedar menyelesaikan kewajiban, tetapi merenungkan setiap sabda yang dihidupkan.
Lalu bacalah buku-buku yang membuka wawasanmu: tentang sejarah bangsamu, tentang keadilan sosial, tentang ilmu pengetahuan, tentang pengalaman orang-orang suci dan orang-orang hebat.
Dan mulailah menulis.
Tulislah apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu rasakan, apa yang kamu perjuangkan.
Tidak harus sempurna di awal.
Yang penting jujur dan sungguh-sungguh.
Tulisanmu bisa menjadi pelita bagi orang lain yang sedang bingung.
Tulisanmu bisa menjadi saksi bagi generasi mendatang tentang apa yang terjadi di zaman ini.
Membaca dan menulis bukan pilihan, melainkan tanggung jawab.
Membaca membuat kita tidak mudah dibodohi.
Menulis membuat kita tidak mudah dilupakan sejarah.
Saya ingin mengajak seluruh anak muda, di mana pun kamu berada: jangan tunggu orang lain yang membacakan untukmu, jangan tunggu orang lain yang menuliskan suaramu.
Ambilah buku, bukalah halaman, dan biarkan pikiranmu berkelana.
Ambilah pena atau papan ketik, dan biarkan gagasanmu tertulis.
Ada kata bijak yang saya pegang: “Orang yang tidak membaca hidup hanya satu kali.
Orang yang membaca, menikmati ribuan kehidupan sebelum napasnya berakhir.
Dan orang yang menulis, namanya dan suaranya tidak akan mati, meski tubuhnya sudah tiada.”
Maka bacalah, agar kamu bijaksana.
Tulislah, agar kamu bermanfaat.
Karena dunia tidak butuh penonton yang diam, dunia butuh orang yang berilmu dan berani bersuara.
























