Kuningan patrolinews86.com – ( 29 Juli 2026) – Langkah strategis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang resmi merapat dan melabuhkan dukungan penuh kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus memantik respons dari berbagai kalangan.
Tidak terkecuali di tingkat daerah, pergeseran peta politik dari oposisi menjadi mitra koalisi ini dinilai membawa implikasi cara pandang baru bagi basis massa di akar rumput.
Pengamat kebijakan publik dan politik senior Kabupaten Kuningan, Sujarwo yang karib disapa Mang Ewo analisis mendalamnya mengenai fenomena tersebut. Menurutnya, bergabungnya PKS ke barisan pemerintahan merupakan realitas politik yang didorong oleh kebutuhan pragmatisme taktis serta kedekatan historis elite parpol nasional.
Hubungan Batin Nasional vs Realitas Akar Rumput
Mang Ewo menjelaskan bahwa di tingkat pusat PKS memang memiliki rekam jejak panjang bersama Gerindra dan Prabowo Subianto. Penegasan Majelis Syuro PKS untuk mengawal keberhasilan program pemerintah dipandang sebagai langkah mengunci posisi strategis nasional.
Secara nasional, elite PKS menyebut ini sebagai ‘hubungan batin’. Namun di tingkat lokal seperti Kabupaten Kuningan, konstituen atau basis massa di bawah seringkali mengalami shock budaya politik karena mereka terbiasa berada di jalur kritis atau oposisi selama masa kampanye lalu,” ujar Mang Ewo saat dihubungi via selulernya di Kuningan.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Ia menambahkan, perubahan arah ini menuntut para pengurus partai di daerah untuk bekerja ekstra melakukan rekonsiliasi pemahaman kepada para kadernya agar tidak terjadi penurunan kepercayaan ataupun kebingungan ideologis.
Di sisi lain, beralihnya PKS ke pemerintahan juga secara otomatis mengubah peta gerakan para pendukung Anies Baswedan. Elemen-elemen penggerak yang dulunya bernaung di bawah payung koalisi kini memisahkan diri dan bertransformasi dalam ormas maupun Partai Gerakan Rakyat.
Mang Ewo menilai perubahan ini sebagai pemisahan jalur yang tegas. “Anies Baswedan kini berjalan bersama gerbong kulturalnya sendiri melalui Gerakan Rakyat. Ini menjadi pembeda yang jelas PKS memilih jalur struktural kekuasaan, sementara loyalis Anies memilih jalur perjuangan di luar pemerintahan,” urainya.
Pesan untuk Politisi dan Masyarakat Kuningan
Menutup analisisnya, mang Ewo mengingatkan agar dinamika geopolitik nasional ini dijadikan pelajaran mendewasakan bagi masyarakat Kabupaten Kuningan. Konstituen lokal diharapkan tidak terjebak dalam fanatisme buta terhadap figur ataupun logo partai.
Kuningan harus tetap memprioritaskan fungsi pengawasan kebijakan publik daerah (seperti transparansi anggaran, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan masyarakat).
Status parpol yang sudah menjadi koalisi pemerintah pusat tidak boleh mengurangi keberanian kader-kader daerah dalam mengkritik kebijakan eksekutif jika dirasa tidak berpihak pada rakyat kecil.
Kedewasaan berpolitik masyarakat kuningan harus menyadari bahwa dalam politik formal ‘tidak ada kawan atau lawan yang abadi’, sehingga basis massa di bawah tidak perlu berkonflik secara horizontal akibat perbedaan arah dukungan tokoh nasional “pungkasnya”
HERDI RERE
























