Guru Dan Dosen: Orang Tua Kedua Dalam Perjalanan Ilmu Dan Kehidupan.

Selasa, 25 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Maria Bulan Purnamasari Pau.

Pendidikan adalah perjalanan panjang yang tidak pernah sekadar dimulai dan diakhiri pada angka, nilai, atau kelulusan.
Pendidikan adalah perjalanan menemukan diri, perjalanan membuka pintu terhadap dunia, perjalanan untuk memahami arti kehidupan.
Sepanjang perjalanan itu, ada pribadi-pribadi luar biasa yang hadir sebagai tiang, penguat, sekaligus penerang.
Mereka adalah guru dan dosen, sosok yang berdiri sebagai orang tua kedua dalam hidup kita, bukan karena kewajiban, tetapi karena ketulusan hati.

Sering orang berkata bahwa ilmu dapat dicari di mana saja.
Namun tidak ada perpustakaan, buku, ataupun teknologi yang mampu menggantikan ketulusan hati seorang pendidik.
Mereka bukan hanya mengajarkan mata pelajaran, tetapi membimbing, membangunkan kesadaran, menyalakan semangat, dan menuntun kita menjadi pribadi yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Mereka memarahi untuk kebaikan, menegur untuk kebenaran, memuji untuk membangun keyakinan diri, dan diam-diam berdoa agar kita kelak menjadi orang yang berhasil.

Ketika saya mengenang perjalanan panjang pendidikan saya, saya menyadari bahwa tidak ada satu pun tahap kehidupan tanpa sentuhan seorang guru.
Bahkan sebelum saya memahami makna belajar, saya sudah dibimbing oleh sosok-sosok berhati lembut di Taman Kanak-Kanak.
Saya masih mengingat guru TK saya hingga detik ini.
Ada Ibu Endang, Ibu Sisi, dan para guru lainnya yang mungkin tidak dapat saya sebutkan satu per satu, namun kasih dan kesabaran mereka menjadi fondasi awal mengapa saya mencintai dunia pendidikan.
Dari merekalah saya pertama kali belajar berani berbicara, belajar berbagi, belajar menghargai teman, dan belajar percaya diri.

Perjalanan itu kemudian berlanjut di bangku sekolah dasar.
Di sana saya bertemu lagi dengan guru-guru penuh ketulusan yang membentuk karakter saya ketika saya masih polos, lugu, dan belum memahami banyak hal tentang kehidupan.
Ada Ibu Simpo, Pak Wayan, Pak Nabas, Ibu Esta, Ibu Patris, Ibu Vin, Ibu Karlindis, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebut satu per satu.
Tetapi semuanya hidup dalam ingatan saya.
Dari mereka, saya belajar membaca dunia, bukan hanya membaca huruf.
Saya mengenal angka sekaligus mengenal moral.
Saya belajar pelajaran sekolah, namun di antara baris-baris itu saya juga belajar cara bersikap, cara menghormati orang lain, cara bekerja keras, cara mengatasi kekecewaan, dan cara mensyukuri pencapaian kecil sekalipun.

Waktu berjalan.
Saya tumbuh menjadi siswa SMP, lalu SMA, dan kemudian menjadi mahasiswa.
Namun kehadiran guru tidak pernah hilang.
Di SMA Negeri 2 Maumere, saya bertemu dengan sosok-sosok yang membentuk kedewasaan saya secara lebih dalam.
Ibu Ani sebagai wali kelas menjadi rumah di sekolah, tempat bercerita, bertanya, dan bertumbuh.
Ada Bapak Falen, ada Ibu Yiska dengan suara indah yang selalu saya ingat, ada Ibu Ina yang penuh ketulusan, ada Pak Yanto, Pak Mario, Pak Rudi, Pak Mario Darato, serta Pak Edi Da Silva sebagai kepala sekolah yang penuh wibawa dan kebaikan.
Ada pula guru-guru muda seperti Ibu Ira, Ibu Erlita, dan Pak Rian yang membuktikan bahwa pendidikan selalu bersambung dari generasi ke generasi.

Setiap guru memiliki caranya sendiri, namun semuanya menginginkan hal yang sama.
Mereka ingin melihat muridnya tumbuh.
Mereka ingin melihat muridnya percaya pada dirinya sendiri.
Mereka ingin melihat muridnya menemukan jalannya.
Mereka adalah bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang akademik, tetapi tentang hati.

Perjalanan saya kemudian berlanjut ke dunia perkuliahan.
Di kampus, saya kembali dipertemukan dengan keluarga baru dalam bentuk para dosen.
Mereka hadir sebagai penuntun pada tingkat pemikiran yang lebih dewasa, namun tetap dengan ketulusan yang sama.
Saya beruntung dipertemukan dengan sosok seperti Bapak, Maximinus Adrianus Sarto Dumbaris, S.H., M.H., dosen pembimbing yang bukan hanya memandu akademik, tetapi juga membentuk ketangguhan mental dan kebijaksanaan hati.
Ada Ibu, Juliette Anne Mantovaya Pega, S.H.,M.H , sosok cantik dan cerdas yang mengajar dengan kelembutan tetapi penuh ketegasan dan prinsip.
Ada Bapak: Gregorius Cristison Bertholomeus, S.H.,M.H dan sederet dosen lainnya yang mungkin tidak dapat saya sebutkan satu per satu, namun semuanya memiliki tempat dalam perjalanan hidup saya.

Melalui para guru dan dosen saya, saya belajar bahwa pendidikan tidak pernah hanya tentang tugas, UTS, UAS, skripsi, dan indeks prestasi.
Pendidikan adalah seni membentuk manusia.
Guru dan dosen tidak selalu terlihat, tetapi pengaruh mereka tidak pernah hilang.
Mereka adalah alasan mengapa saya mampu bermimpi lebih tinggi dan berani melangkah lebih jauh.

Pada bagian ini saya ingin menyampaikan permohonan maaf terdalam saya.
Saya hanya mampu menyebut sebagian nama, bahkan hanya dengan nama panggilan.
Bukan karena lupa, bukan karena mengurangi penghormatan, melainkan karena begitu banyak sosok mulia yang telah menyentuh perjalanan hidup saya dengan cara masing-masing.
Hati saya menyimpan semuanya, meskipun tulisan ini tidak dapat memuat semuanya.

Kelak ketika saya berhasil, saya tahu bahwa keberhasilan itu bukan hanya milik saya.
Ada nama-nama mereka di dalamnya, nama-nama yang ditulis tidak dengan tinta, tetapi dengan cinta.
Jika hari ini saya mampu berdiri, itu karena dulu ada guru dan dosen yang tidak membiarkan saya jatuh.
Jika hari ini saya berani bermimpi, itu karena ada seseorang yang pernah percaya pada saya bahkan ketika saya tidak percaya pada diri sendiri.

Guru dan dosen bukan hanya profesi.
Mereka adalah panggilan jiwa.
Mereka adalah cahaya dalam perjalanan kehidupan.
Mereka adalah orang tua kedua yang membangun bukan hanya masa depan saya, tetapi diri saya sebagai manusia.

Dan untuk mereka, saya tidak akan pernah berhenti berterima kasih.

Puisi Pendek Untuk Guru Dan Dosen:

Di setiap langkah saya menuju masa depan
Ada jejak tangan-tangan yang tak terlihat oleh dunia
Tangan guru
Tangan dosen
Yang menuntun tanpa meminta balasan

Mereka tidak melahirkan tubuh saya
Namun mereka melahirkan pikiran saya
Melahirkan karakter saya
Melahirkan masa depan saya

Jika hari ini saya berdiri tegak
Itu karena ada doa yang mengawal langkah saya
Jika suatu hari saya berhasil
Nama mereka ada di balik keberhasilan itu

Pendidikan adalah cinta yang tulus
Dan saya bersyukur
Karena saya pernah dicintai dalam bentuk didikan

Terima kasih guru
Terima kasih dosen
Karena telah menjadikan saya manusia.

Berita Terkait

Bupati Eman Suherman Minta BPR Majalengka Perkuat Manajemen Risiko.
Operasi Patuh Candi 2026, Satlantas Pekalongan Kota Gencarkan Sosialisasi Tertib Berlalu Lintas
Peduli Warga Terdampak Karhutla dan Kekeringan, Kapolda Kalteng Salurkan Air Bersih untuk Warga Pangkalan Bun
Operasi Patuh Candi 2026, Polres Pekalongan Salurkan 18 Ribu Liter Air Bersih
PT.Lambang Bumi Perkasa di Duga Belum Kantongi Ijin Resmi Pemakaian Air Sungai 
Polres Indramayu Buka Pelatihan Vokasi Bagi Warga PHK dan Peduli Pengangguran
Jalan Agus Salim Diaspal Ulang, Polres Pekalongan Kota Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
PULUHAN ORMAS PEMUDA PANCASILA BERKUMPUL DI GOR TRISANJA MENGGRUDUG KANTOR PIMPINAN CABANG GERAKAN ANSHOR TEGAL. 
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:12 WIB

Bupati Eman Suherman Minta BPR Majalengka Perkuat Manajemen Risiko.

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:22 WIB

Operasi Patuh Candi 2026, Satlantas Pekalongan Kota Gencarkan Sosialisasi Tertib Berlalu Lintas

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:14 WIB

Peduli Warga Terdampak Karhutla dan Kekeringan, Kapolda Kalteng Salurkan Air Bersih untuk Warga Pangkalan Bun

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Operasi Patuh Candi 2026, Polres Pekalongan Salurkan 18 Ribu Liter Air Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:00 WIB

PT.Lambang Bumi Perkasa di Duga Belum Kantongi Ijin Resmi Pemakaian Air Sungai 

Berita Terbaru