KIRAB BUDAYA MERTI DUKUH GETASARI GLADAGSARI BOYOLALI: TIRTO SUCI PERWITO SARI DIPERCikKAN KE GUNUNGAN HASIL BUMI, WARGA BEREBUT BERKAH

Minggu, 18 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOYOLALI – Patrolinews86.com. Tradisi turun-temurun Merti Dukuh Getasari, RW 02, Desa Gladagsari, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, kembali berlangsung meriah, khidmat, dan penuh makna. Puncak kegiatan yang dikemas dalam Kirab Budaya pada Minggu (18/10/2026) menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur masih terpelihara kuat di tengah kehidupan masyarakat modern.

Ribuan rasa syukur, semangat kebersamaan, serta kecintaan terhadap budaya lokal menyatu dalam rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, generasi muda, hingga warga lanjut usia.

 

Tradisi ini tidak sekadar menjadi tontonan budaya, melainkan juga sarana mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, dan melestarikan identitas masyarakat pedesaan.

Salah satu prosesi yang paling menyita perhatian masyarakat adalah pemercikan Tirto Suci Perwito Sari ke gunungan hasil bumi, yang kemudian disambut antusias warga dengan berebut hasil bumi untuk ngalap berkah.

 

Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki, hasil pertanian, serta harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan.

 

*DOA LINTAS AGAMA, WUJUD KERUKUNAN YANG TERJAGA*

 

Rangkaian Merti Dukuh Getasari telah dimulai pada Kamis (15/10/2026) sore, bertepatan dengan malam Jumat Legi dalam penanggalan Jawa, pada bulan Bakdo Mulud. Kegiatan diawali dengan doa bersama lintas agama yang berlangsung di makam desa setempat, mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai.

Doa bersama tersebut melibatkan umat Islam, Buddha, Hindu, Katolik, Protestan, serta penghayat aliran kepercayaan. Kehadiran berbagai unsur keyakinan dalam satu rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa tradisi Merti Dukuh di Getasari tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati.

Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, kebersamaan semacam ini memiliki arti penting. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk duduk bersama, menjaga hubungan sosial, dan merawat kerukunan di lingkungan masyarakat.

 

Semangat itulah yang menjadi salah satu kekuatan tradisi Merti Dukuh Getasari. Budaya tidak hanya diwariskan melalui pertunjukan seni, tetapi juga melalui sikap saling menghargai, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.

 

*TIRTO SUCI PERWITO SARI, SIMBOL HARAPAN DAN RASA SYUKUR*

Pada malam harinya, sekitar pukul 19.00 WIB, masyarakat melanjutkan rangkaian kegiatan dengan prosesi pengambilan air suci Tirto Suci Perwito Sari di Kali Kerok, wilayah Dukuh Getasari.

Prosesi tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Air yang diambil dari Kali Kerok kemudian dipersiapkan untuk digunakan dalam prosesi puncak kirab budaya.

Bagi masyarakat yang melestarikannya, Tirto Suci Perwito Sari memiliki nilai simbolis yang berkaitan dengan harapan akan kesucian niat, keselamatan, ketenteraman, serta keberkahan bagi lingkungan dan seluruh warga.

 

Usai prosesi pengambilan air, kegiatan dilanjutkan dengan malam tirakatan yang diisi penampilan tari kreasi dari warga Dukuh Getasari RW 02. Suasana kebersamaan terasa kental, sementara kesenian lokal menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengekspresikan kecintaan terhadap budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Malam tirakatan tersebut sekaligus menjadi pengantar menuju puncak perayaan Merti Dukuh, yang dinantikan masyarakat melalui kirab budaya dan berbagai pertunjukan kesenian.

 

*KIRAB BUDAYA TAMPILKAN KEKAYAAN SENI DAN KREATIVITAS WARGA*

Puncak acara berlangsung pada Minggu (18/10/2026), dimulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Kirab budaya mengambil titik keberangkatan di dekat makam dukuh setempat, kemudian bergerak ke arah timur menuju Jalan Solo–Semarang.

Rombongan selanjutnya berbelok ke kiri di depan SDN 1 Ampel, melanjutkan perjalanan hingga perempatan RT 01 Getasari, kemudian bergerak ke arah selatan menuju garis akhir di Balai Desa Lama Gladagsari.

Sepanjang perjalanan, barisan peserta menyuguhkan beragam penampilan yang mencerminkan kekayaan seni tradisional, kreativitas masyarakat, serta semangat gotong royong antargenerasi.

Kirab diawali barisan Paskibra dari SMAN 1 Ampel, disusul pasukan pengiring bergodo yang menambah kesan gagah dan berwibawa. Setelah itu, barisan pembawa Tirto Suci Perwito Sari tampil dengan diapit para tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Gunungan hasil bumi yang ditempatkan di atas kendaraan menjadi salah satu pusat perhatian. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap arak-arakan, melainkan simbol kemakmuran, hasil kerja keras masyarakat, serta ungkapan syukur atas anugerah alam.

Di belakangnya, barisan anak-anak dengan pakaian berwarna-warni menambah semarak suasana. Ibu-ibu dan anak-anak yang mengenakan busana kreasi turut memperlihatkan kreativitas warga dalam memadukan unsur tradisi dengan penampilan yang menarik.

Kemudian, barisan dramblek ibu-ibu menyuguhkan irama yang menghidupkan suasana. Penampilan jaranan anak-anak dan kesenian Topeng Ireng menambah kekayaan pertunjukan, disusul barisan bapak-bapak yang menampilkan seni angguk.

Semarak kirab semakin terasa dengan kehadiran kelompok Warok yang terdiri atas ibu-ibu dan bapak-bapak. Sementara itu, barisan Celeng Gonteng menutup arak-arakan dengan penampilan khas yang menjadi bagian dari kekayaan ekspresi seni masyarakat.

 

Seluruh barisan bergerak dengan penuh semangat. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga warga lanjut usia mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Keterlibatan lintas generasi ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab kelompok tertentu, melainkan menjadi gerakan bersama masyarakat.

 

*TIRTO SUCI DIPERCikKAN KE GUNUNGAN, WARGA ANTUSIAS NGALAP BERKAH*

Setibanya rombongan di Balai Desa Lama Gladagsari, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi pemercikan Tirto Suci Perwito Sari ke gunungan hasil bumi.

Prosesi tersebut dilakukan oleh Camat Gladagsari bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan Batalion Ifanteri TP 454/SPD, Polsek Ampel, Polsubsektor Gladagsari, Koramil Ampel, Ketua RT RW se Desa Gladagsari, dan Tamu undangan juga warga masyarakat.

Momen ini menjadi salah satu puncak yang paling dinantikan dalam perayaan Merti Dukuh Getasari.

Perhatian warga tertuju pada gunungan yang tersusun dari berbagai hasil bumi. Setelah prosesi pemercikan selesai, masyarakat beramai-ramai mendekat untuk mengambil bagian dari gunungan tersebut sebagai bentuk ngalap berkah.

Suasana pun semakin semarak. Warga berdesakan secara antusias untuk memperoleh hasil bumi yang diyakini menjadi simbol keberuntungan, rezeki, dan harapan baik dalam kehidupan mereka.

Tradisi berebut gunungan ini memiliki daya tarik tersendiri. Di balik kemeriahan tersebut, tersimpan pesan mengenai pentingnya rasa syukur atas hasil bumi, penghargaan terhadap kerja keras para petani, serta harapan agar kesejahteraan masyarakat terus meningkat.

Gunungan hasil bumi juga menjadi gambaran bahwa kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari alam dan hasil pertanian. Apa yang dipanen hari ini merupakan buah dari kerja keras, kesabaran, serta ketekunan yang perlu terus dijaga dari generasi ke generasi.

Bagi masyarakat Getasari, ngalap berkah bukan semata-mata tentang mendapatkan hasil bumi yang diperebutkan, tetapi juga tentang menjaga hubungan sosial, merawat tradisi, dan memperkuat rasa memiliki terhadap warisan budaya leluhur.

 

*SENI TRADISIONAL MENJADI JEMBATAN ANTARGENERASI*

Usai prosesi gunungan, acara dilanjutkan dengan penampilan berbagai kelompok kesenian, mulai dari anak-anak hingga warga lanjut usia.

Pertunjukan tersebut menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mempertahankan eksistensi kesenian lokal. Anak-anak mendapat kesempatan mengenal budaya sejak dini, sedangkan generasi yang lebih tua dapat meneruskan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki.

Keterlibatan berbagai kelompok usia menjadi salah satu nilai penting dalam penyelenggaraan Merti Dukuh. Tradisi akan tetap hidup apabila masyarakat tidak hanya menyaksikannya, tetapi juga terlibat langsung dalam persiapan, pelaksanaan, dan pewarisannya.

Di tengah perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup, kegiatan budaya seperti ini memiliki peran strategis untuk menjaga agar kesenian tradisional tidak terpinggirkan. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkan seni lokal tanpa kehilangan akar budayanya.

Merti Dukuh Getasari pun menjadi gambaran bahwa kebudayaan dapat terus berkembang selama masyarakat memiliki kemauan untuk merawatnya bersama.

 

*DIHADIRI UNSUR PEMERINTAH, TNI, POLRI, DAN TOKOH MASYARAKAT*

Pelaksanaan Kirab Budaya Merti Dukuh Getasari turut dihadiri Camat Gladagsari Muh Isak ,S.P, M.P anggota DPRD Kabupaten Boyolali dari Fraksi PDI Perjuangan Kakung Proyogo, S.Pd. perwakilan Polsek Ampel, Subsektor Gladagsari, Koramil Ampel Sertu Novi , serta perwakilan Batalion TP 454/SPD Serma Putut Tetuko, S.Kep.Ns.SH.M.H.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menambah semangat masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan budaya yang menjadi bagian dari identitas lokal.

 

Dukungan dan keterlibatan berbagai elemen diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian budaya, menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dan pemangku kepentingan, serta mendorong kegiatan tradisi agar terus berlangsung pada tahun-tahun mendatang.

Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, tertib, dan kondusif hingga berakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Masyarakat mengikuti acara dengan antusias, sementara kirab budaya menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan seni, tradisi, kebersamaan, dan rasa syukur dalam satu perayaan.

 

*MERTI DUKUH BUKAN SEKADAR RITUAL, MELAINKAN WARISAN YANG HARUS DIJAGA*

Merti Dukuh Getasari memberikan pesan kuat bahwa kekayaan budaya lokal memiliki nilai yang jauh melampaui kemeriahan sebuah acara. Di dalamnya terdapat sejarah, identitas, semangat gotong royong, toleransi antarumat beragama, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.

Kirab budaya, prosesi Tirto Suci Perwito Sari, gunungan hasil bumi, dan beragam pertunjukan kesenian merupakan rangkaian yang saling melengkapi. Semuanya memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan tradisi sekaligus membangun kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tradisi semacam ini patut terus dilestarikan, bukan hanya untuk dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga untuk diwariskan sebagai nilai hidup kepada generasi berikutnya.

Sebab, kemajuan sebuah masyarakat tidak harus membuatnya meninggalkan akar budayanya. Justru dengan mengenali sejarah dan menghargai warisan leluhur, masyarakat dapat melangkah ke masa depan dengan identitas yang kuat.

Merti Dukuh Getasari menjadi bukti bahwa ketika masyarakat bersatu, budaya tetap hidup, kerukunan tetap terjaga, dan semangat gotong royong terus tumbuh.

Tirto Suci Perwito Sari dan gunungan hasil bumi menjadi simbol rasa syukur; sementara kirab budaya menjadi pesan nyata bahwa warisan leluhur akan tetap lestari selama masyarakat bersedia menjaga, merawat, dan mewariskannya bersama.( Samira & tim )

 

IMG 20261018 WA0038

Berita Terkait

Operasi Patuh Candi 2026, Satlantas Pekalongan Kota Gencarkan Sosialisasi Tertib Berlalu Lintas
Peduli Warga Terdampak Karhutla dan Kekeringan, Kapolda Kalteng Salurkan Air Bersih untuk Warga Pangkalan Bun
Operasi Patuh Candi 2026, Polres Pekalongan Salurkan 18 Ribu Liter Air Bersih
PT.Lambang Bumi Perkasa di Duga Belum Kantongi Ijin Resmi Pemakaian Air Sungai 
Polres Indramayu Buka Pelatihan Vokasi Bagi Warga PHK dan Peduli Pengangguran
Jalan Agus Salim Diaspal Ulang, Polres Pekalongan Kota Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
PULUHAN ORMAS PEMUDA PANCASILA BERKUMPUL DI GOR TRISANJA MENGGRUDUG KANTOR PIMPINAN CABANG GERAKAN ANSHOR TEGAL. 
K.H.Fadel Abdullah Al-Muhibb, Pentingnya Hablum Minannas dan Hablum Minallah.
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:22 WIB

Operasi Patuh Candi 2026, Satlantas Pekalongan Kota Gencarkan Sosialisasi Tertib Berlalu Lintas

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Operasi Patuh Candi 2026, Polres Pekalongan Salurkan 18 Ribu Liter Air Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:00 WIB

PT.Lambang Bumi Perkasa di Duga Belum Kantongi Ijin Resmi Pemakaian Air Sungai 

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:53 WIB

Polres Indramayu Buka Pelatihan Vokasi Bagi Warga PHK dan Peduli Pengangguran

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Jalan Agus Salim Diaspal Ulang, Polres Pekalongan Kota Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

Berita Terbaru

HUKUM

Adakah Batasan Jumlah Gratifikasi..?

Jumat, 30 Okt 2026 - 10:45 WIB