CIAMIS — Patrolinews86 — Pelataran cagar budaya Situs Astana Gede Kawali berubah menjadi panggung sastra yang meriah pada Sabtu malam (25 Juli 2026).
Acara apresiasi sastra akbar bertajuk “Ringkang Mangsa” sukses digelar dengan khidmat, menyedot perhatian ratusan penonton yang memenuhi “Bale Reka Paminton” (tempat acara pertunjukan).
Acara yang digagas oleh dua maestro sastra Sunda ternama, Godi Suwarna dan Toni Lesmana dan didukung oleh para pemusik “Astagina” juga kacapi suling “Dangiang Surawisesa” ini dirancang sebagai ruang refleksi budaya sekaligus wadah unjuk rupa bagi para seniman lokal. Menggabungkan resonansi puitis dengan atmosfer sakral bekas ibu kota Kerajaan Galuh, malam itu menjadi saksi bisu bersatunya sejarah dan karya sastra modern.
Kolaborasi para Jawara Puisi ini memuncak saat panggung diambil alih oleh para jawara puisi se-Kabupaten Ciamis.
Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian dan mendapat apresiasi luar biasa berasal dari Komunitas Perempuan Penulis Ciamis (KPPC) yang dibawakan oleh Rd.Diah Sumarliah, Fani Triani, Idhey Deti, Defi, Diani Raras.
Kehadiran para penyair perempuan ini memberikan warna emosional yang kuat melalui pembacaan puisi bertema kritik sosial, perenungan spiritual dan pelestarian alam tatar Galuh.
Godi Suwarna, selaku inisiator, mengungkapkan rasa bangga atas antusiasme para penampil dan masyarakat yang hadir.
“Ringkang Mangsa” bukan sekadar pembacaan puisi biasa. Ini adalah pergerakan waktu, ingatan, dan penghormatan kita kepada leluhur melalui bahasa batin, yaitu sastra.
Berada di Astana
Gede membuat setiap bait puisi terasa lebih bernyawa,” ujar Godi di sela-sela acara.
Sinergi Budaya dan Sejarah
Senada dengan Godi, Toni Lesmana menambahkan bahwa pemilihan lokasi Kawali bertujuan untuk mendekatkan kembali generasi muda Ciamis kepada akar sejarahnya melalui media yang cair dan estetik.
“Sastra harus hidup di tengah masyarakat, dan malam ini kita melihat bagaimana sejarah mampu berdialog dengan masa kini lewat larik-larik puisi,” tutur Toni dalam sambutannya sebelum acara dimulai.
Acara yang berlangsung dari sore hingga larut malam ini ditutup oleh pagelaran seni yang tidak kalah menarik, yaitu pertunjukan drama “Roro Mojopahit” (Didon Nurdani dkk).
Keberhasilan
“Ringkang Mangsa” diharapkan menjadi pemantik bagi penyelenggaraan agenda sastra tahunan yang lebih besar di Kabupaten Ciamis, sekaligus menegaskan posisi Astana Gede Kawali bukan hanya sebagai objek wisata sejarah, tetapi juga ruang kreatif yang inklusif bagi para seniman.
HERDI RERE
























