Klaten – Patrolinews86.com.
Tradisi Sadranan dan Tahlil Kubro kembali digelar dengan khidmat di Dukuh Srijaya, Pucang Miliiran, Klaten.setiap tanggal 20 ruwah atau 10 hari menjelang bulan Ramadzon, Kegiatan yang sarat nilai religius dan kearifan lokal ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mengenang para leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga. Suasana semakin semarak dengan kehadiran Hadroh Yunior Habibatul Mustofa dari dukuh setempat, yang turut memeriahkan acara melalui lantunan shalawat penuh semangat dan kekhusyukan.Minggu(08/02/2026)
Sadranan merupakan tradisi turun-temurun yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Klaten. Tradisi ini tidak sekadar ritual ziarah dan doa bersama, namun juga menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT serta bentuk penghormatan terhadap para pendahulu yang telah berjasa membangun kehidupan desa. Melalui Tahlil Kubro, masyarakat bersama-sama datang ke Makam Darussalam dukuh Srijaya, kurang lebih 700 orang baik pria wanita tua muda memanjatkan doa, berharap keberkahan, keselamatan, dan kedamaian bagi seluruh warga.
Pelaksanaan Sadranan dan Tahlil Kubro tahun ini terasa istimewa karena melibatkan peran aktif generasi muda. Kehadiran Hadroh Yunior Habibatul Mustofa dibawah Bimbingan Ustad Syaifudi Zuhri dengan digawangi pelatih anak anak muda seperti sdr Iman, sdr Ibnu Salim, sdr Ilham dan Iqbal, menjadi simbol nyata bahwa nilai-nilai keislaman dan kebudayaan lokal terus diwariskan dari generasi ke generasi. Anak-anak dan remaja tampil dengan penuh percaya diri, membawakan shalawat dengan irama hadroh yang dinamis, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi tidak lekang oleh waktu, melainkan mampu beradaptasi dengan semangat zaman.
Antusiasme masyarakat terlihat dari kebersamaan yang terjalin sejak persiapan hingga pelaksanaan acara. Warga bahu-membahu, saling membantu tanpa memandang usia maupun latar belakang. Nilai gotong royong inilah yang menjadi kekuatan utama dalam menjaga kelestarian tradisi Sadranan. Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama dalam melanjutkan warisan budaya dan spiritual desa.
Lebih dari sekadar seremoni, Sadranan dan Tahlil Kubro mengajarkan makna kebersamaan, keikhlasan, serta pentingnya menjaga hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tradisi ini menjadi ruang edukasi kultural bagi generasi muda, agar mereka memahami jati diri, sejarah, serta nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Dengan terus dilaksanakannya tradisi Sadranan dan Tahlil Kubro, masyarakat Dukuh Srijaya, Pucangmiliran, Tulung, Klaten berharap nilai-nilai kebajikan, religiusitas, dan kebersamaan dapat terus hidup dan berkembang. Kehadiran generasi muda melalui Hadroh Yunior menjadi harapan besar bahwa tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai identitas budaya yang membanggakan, sekaligus menjadi jembatan penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.( Samira )













