Sumbar Aceh,Patrolinews86.com- Setelah menempuh perjalanan udara sekitar 4 jam menggunakan pesawat CN-295 Polri, rombongan bantuan kemanusiaan akhirnya tiba di Bandara Internasional Kualanamu. Kehadiran ini menjadi bagian dari perkuatan Polri untuk mempercepat pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana alam, dengan dukungan alat berat di medan yang sulit.
Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., turun langsung ke lapangan bersama personel Polri untuk memastikan progres perbaikan berjalan optimal. Langkah ini menegaskan komitmen Polri agar setiap upaya pemulihan dapat segera diketahui masyarakat dan benar-benar dirasakan manfaatnya, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Polri terus hadir, bekerja, dan berjibaku bersama rakyat — memastikan pemulihan pascabencana berjalan cepat, tepat, dan berkelanjutan.
Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., memimpin apel pemberangkatan personel Polri dalam rangka memperkuat penanganan pascabencana di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebanyak 1.500 personel dikerahkan untuk mendukung personel organik di daerah terdampak yang telah bertugas selama hampir satu bulan. Penguatan ini dilengkapi dengan pengerahan alat berat, distribusi logistik, penyediaan air bersih, serta layanan kesehatan bagi masyarakat di lokasi pengungsian. Langkah tersebut menjadi wujud komitmen Polri dalam merespons cepat dan berkelanjutan, sekaligus memastikan pemulihan pascabencana berjalan optimal melalui sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.
Selama 26 hari, Kecamatan Pining terisolasi akibat banjir dan longsor. Akses jalan terputus, aktivitas warga terhenti, dan kebutuhan dasar menjadi tantangan.
Dalam kondisi tersebut, Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo, S.I.K., bersama TNI dan Pemerintah Daerah, memilih turun langsung menembus medan ekstrem menggunakan kendaraan off-road. Perjalanan berat selama tiga hari dua malam dilalui demi memastikan kondisi warga sekaligus mengawal pembukaan kembali akses jalan.
Di tengah keterbatasan, kepedulian hadir dalam tindakan sederhana namun bermakna—membeli hasil panen warga dan menyalurkan bantuan sembako. Karena kehadiran negara bukan sekadar simbol, tetapi nyata dirasakan, bahkan di wilayah paling sulit dijangkau.
Fi















