Indikasi lakukan mal praktek, putri Ketua DPD PWRI Jabar meningal dunia, setelah menjalani perawatan di RS BSH Bogor

- Penulis Berita

Rabu, 5 Oktober 2022 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Indikasi lakukan mal praktek, putri Ketua DPD PWRI Jabar meningal dunia, setelah menjalani perawatan di RS BSH Bogor

Bogor.Patrolinews86,com. Putri Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Wartawan Republik Indonesia (DPD PWRI) Provinsi Jawa Barat H. Hermawan, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Bogor Senior Hospital, pihak RS BSH diduga kuat melakukan malpraktek.

H. Hermawan mengungkapkan, kondisi putrinya memburuk setelah diberikan cairan dalam 2 – 3 tahap. Yang ,mana satu (1) dosisnya 500 CC untuk 3 (tiga) kali pemberian cairan dengan 1500 cc, menurut keterangan dokter , dr. Analysa, Sp.A.
Namun pada saat cairan dimasukkan, tidak ada tindakan pemasangan kateter untuk mengontrol cairan masuk maupun keluar, sehinga tidak bisa dilakukan observasi yang maksimal, anehnya kateter tidak dipasang kepasien namun pihak Rumah sakit RS BSH menagih pembayaran kepada keluarga pasien, dan keluarga pasien membayar tagihan tersebut.

“ Tanggal 23 September 2022, sekitar pukul 07.00, dr. Analysa, Sp.A, visit dan menyampaikan bahwa trombosit anak saya turun. Saya menyampaikan bahwa pada malam hari anak saya kedinginan, demam sudah turun, makan minum berkurang. Lalu perawat mengecek nadi anak saya, dan terlihat angka sekitar 123. Saya tanyakan apakah itu normal? Perawat menjawab normal. Sekitar pukul 12.00, saya melihat ujung jari anak saya berwarna orange, kemudian perawat mengecek nadi anak saya sekitar 144. Lalu datang dr. Metta yang menginformasikan bahwa anak saya harus ditambah cairan. Lalu cairan ditambahkan dalam dua tahap dengan jenis yang berbeda. Kemudian dilakukan cek darah, dimasukkan lagi cairan kedua. Pada saat cairan dimasukkan, tidak ada tindakan pemasangan kateter untuk mengontrol cairan yang masuk dan keluar,” ungkap Hermawan.
Hermawan menambahkan, setelah cairan dimasukkan semua, anaknya dirontgen. Kemudian dr. Metta menyarankan bahwa anaknya harus di rujuk ke RS Medistra di Jakarta, karena butuh perawatan PICU, bukan ICU atau HCU.
“ Kemudian anak saya dibawa ke ruang ICU RS BSH, sampai di ICU anak saya merasakan kedinginan ekstrim dan bibirnya sudah membiru, menurut keterangan perawat anak saya mengalami shock berat, Pada saat itu yang ada dokter jaga dan beberapa perawat, bukan dokter anak, baru diketahui saat itu bahwa dokter A bukanlah dokter yang STAY di RS BSH, Di saat anak saya kedinginan ektrim, pihak RS hanya memberikan selimut dan kompres air panas serta alat penghangat listrik yang tidak berfungsi. Tidak ada pemberian tindakan dan obat apapun,” untuk menghilangkan schok tersebut terangnya.
“ Setelah kedinginan ekstrim tersebut anak saya sesak nafas dan pihak RS BSH hanya memberikan oksigen dari pukul 14.00 sampai pukul 18.30, tanpa ada tindakan apapun, padahal anak saya sesak nafas dan kedinginan dengan nadi sekitar 160m- 161 , hingga anak saya dibawa ke RS PMI,” tuturnya.
Namun, lanjut Hermawan, sesampai di RS PMI sekitar pukul 19.00, nadi anaknya sekitar 168.
“ Setelah dokter memeriksa anak saya dipasang infus dan kateter dengan cara diguyur. Di IGD RS PMI, nadi anak saya terus naik sampai 200, kemudian dibawa ke ruang ICU PMI dan dipasang ventilator. Setelah dipasang ventilator, saya dipanggil untuk melihat anak saya, dan ternyata anak saya sudah dinyatakan meninggal dunia,” dan lebih parahnya di rujuk ke RS PMI Bogor tanpa RS BSH mengkorfimasi ke RS PMI Bogor apakah RS PMI Bogor memiliki Ruang PICU atau Tidak, karena anaknya saya harus masuk ke ruang PICU, ternyata di RS PMI Bogor tidak memiliki sarana ruang PICU, untuk apa anak saya di rujuk ke RS PMI Bogor yang tidak memiliki Ruang PICU, sehinga menyebabkan anak saya wafat. jadi ternyata pihak RS BSH Bogor sangat lalai untuk menangani anak saya dan tidak professional,” ungkapnya.
Kemudian, lanjut Hermawan, pada tanggal 26 September 2022, sekitar pukul 14.00 WIB, Hermawan dan keluarga mendatangi RS BSH untuk meminta klarifikasi dan tabayun.
Adapun pihak RS yang datang adalah dr. Analysa Sp.A, kepala perawat dan 2 orang tim manajemen RS BSH. Dari hasil klarifikasi tersebut ditemukan adanya dugaan kesalahan.//azis

Berita Terkait

Puluhan Botol Miras Diamankan Polres Pekalongan Dalam Giat Kepolisian yang Dioptimalkan
Penemuan Mayat di Pemakaman Umum Dukuh Drono Ketaon, Diduga Bakar Diri, Polisi Bersinergi Untuk Evakuasi.
Ditinggal Tahlilan, Satu Unit Ruko di Kecamatan Sandai Terbakar
BERBAGI QURBAN, PRIAMANAYA GROUP SALURKAN QURBAN 26 EKOR SAPI
Polres Pekalongan Kurban 7 Sapi dan 2 Kambing, Diantaranya Disalurkan ke Takmir Masjid dan Pondok Pesantren
Idul Adha 1445 H, Lapas Brebes Sembelih 1 Ekor Sapi dan 7 Ekor Kambing
Polres Pekalongan Kota Bagikan Daging Hewan Kurban kepada Warga
Jelang Idul Adha, Lapas Brebes Terima Hewan Kurban

Berita Terkait

Kamis, 11 Juli 2024 - 22:17 WIB

ini lah Pakaian Seragam Sekolah Jenjang SD SMP SMA Tahun Ajaran 2024-2025

Rabu, 10 Juli 2024 - 15:17 WIB

Jalur Siluman/Titipan PPDB SMPN Kota Bandung diduga Ditarif Jutaan Rupiah

Selasa, 9 Juli 2024 - 13:54 WIB

H.Abdul Rokman : Siap bahwa perubahan di SD NEGERI I Panembahan Kec Plered Cirebon

Rabu, 3 Juli 2024 - 22:07 WIB

Jalin Hubungan Baik dengan Wali Murid, SMP N 2 Klaten Adakan Parenting Education.

Kamis, 27 Juni 2024 - 11:21 WIB

Plh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Drs. M. Ade Afriandi, MT Sidak PPDB Ke SMAN I Sukagumiwang Indramayu

Kamis, 27 Juni 2024 - 10:01 WIB

ACARA PERPISAHAN SDN TUGU MULYA 2 DIWARNAI DENGAN BERBAGAI KEGIATAN

Rabu, 26 Juni 2024 - 11:50 WIB

H. Zulkipli SPd MPd : Bersama Jajaran dan Komite Terus bersinergi majukan Sekolah.

Senin, 24 Juni 2024 - 06:20 WIB

Rakor PGRI, Sekda Dian : Guru Profesional Mampu Menginspirasi Peserta Didik

Berita Terbaru

PEMERINTAH DAN PARLEMEN

MATERIAL PEMBANGUNAN PLTU BATANG WAJIB MENGANTONGI IZIN

Sabtu, 13 Jul 2024 - 22:42 WIB